Bencana Meningkat, BMKG Keluhkan Keterbatasan Radar Cuaca

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hujan. REUTERS/Zoran Milich

    Ilustrasi hujan. REUTERS/Zoran Milich

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya, mengeluhkan keterbatasan peralatan untuk mendeteksi cuaca dan bencana di Indonesia. "Apalagi 95 persen penyebab bencana itu adalah faktor cuaca dan iklim," kata Andi di Jakarta pada Rabu, 24 Agustus 2016.

    Dia mengatakan sebagian besar bencana disebabkan anomali cuaca. Mulai dari kemarau panjang hingga adanya hujan di saat puncak musim kemarau. Misalnya saja, pada Agustus ini seharusnya puncak musim kemarau.

    "Justru sekarang masih sering ada hujan di semua wilayah," ujar Andi di hadapan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Biasanya cuaca yang tak bersahabat ini mendatangkan berbagai bencana. Mulai dari banjir, longsor, dan puting beliung.

    Andi menambahkan, BMKG membutuhkan peralatan yang lebih canggih untuk mendeteksi setiap adanya anomali cuaca dan iklim. Sebab, peralatan yang dimiliki saat ini kurang memadahi. Satu diantaranya kebutuhan radar untuk menjangkau prakiraan di seluruh daerah di Indonesia.

    Saat ini  jumlah radar hanya ada di 40 titik di seluruh Indonesia. Kebanyakan radar ditempatkan di kawasan bandara. Harusnya Indonesiia membutuhkan ratusan radar. BMKG juga hanya memiliki 52 sirine, 763 pengukur cuaca khusus, dan 120 statiun metereologi.

    "Peralatannya belum sebanding dengan luas wilayah Indonesia," kata Andi. Apalagi di Indonesia sering mengalami bencana karena sebagai negara kepulauan, tentu sebagian besar wilayahnya sering banjir, dan sering terjadi longsor.

    Ketua Umum PDIP Megawati membenarkan peralatan penanggulangan bencana memang terbatas. Dia menginginkan tim reaksi cepat harus lebih cepat lagi untuk menolong korban.

    Megawati menyarankan agar Basarnas membangkitkan peranan masyarakat dan meningkatkan insting penanggulan bencana. Presiden ke lima itu mencontohkan dengan insting hewan sesaat sebelum bencana tsunami di Aceh pada 2004.

    "Saya datang ke sana di hari ketiga setelah kejadian, saya melihat semua hewan bisa selamat karena terlebih dulu lari di atas ketinggian," ucap dia. Dia menyarankan agar Basarnas membekali masyarakat pengenalan tanda-tanda bencana. Hal ini untuk membangkitkan naluri insting manusia.

    Hari ini, Megawati mengunjungi Basarnas dan kantor Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika. Ia ingin meningkatkan peranan kader PDIP untuk sigap dan tanggap bencana. Nantinya, para kader PDIP akan diberi pembekalan untuk menjadi relawan penanggulangan bencana.

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.