Ban Sukhoi Pecah, Ibu Jokowi Mendarat Tak Sesuai Jadwal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang

    ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang

    TEMPO.COMakassar - Panglima Komando Operasi II Marsekal Muda TNI Dody Trisunu menyatakan pecahnya ban pesawat Sukhoi SU-27 saat latihan rutin berdampak pada penerbangan pesawat sipil yang ditumpangi ibunda Presiden Joko Widodo, Sudjiatmi Notokohardjo. "Pesawat beliau telat landing," kata Dody, Rabu, 24 Agustus 2016.

    Ban belakang sebelah kiri jet Sukhoi pecah saat mendarat setelah latihan rutin. Pergantian ban terpaksa dilakukan di tengah-tengah runway sehingga bandara sempat ditutup. Penggantian ban hanya sekira 30 menit. Kejadian itu tidak mengganggu penerbangan domestik lain.

    Sudjiatmi tiba di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia GA 608. Sejatinya, pesawat dijadwalkan mendarat pukul 13.15 Wita, tapi baru mendarat pukul 13.34 Wita.

    Ibu Jokowi berkunjung ke Makassar untuk kepentingan pribadi. Sudjiatmi dijadwalkan akan mengunjungi beberapa tempat wisata di Kabupaten Enrekang, Tana Toraja, dan Toraja Utara. Ia baru kembali ke Jakarta pada Jumat sore, 26 Agustus 2016. 

    Juru bicara Angkasa Pura 1 Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Turah Ajiari, membenarkan pesawat ibunda Jokowi yang terlambat mendarat. Dia mengatakan keterlambatan itu akibat insiden pesawat Sukhoi.

    Baca: Ban Jet Tempur Sukhoi Pecah Saat Mendarat di Makassar

    Menurut Turah, pesawat Sukhoi beroperasi di landasan pacu 0321 yang khusus dijadikan latihan pesawat tempur. Adapun runway 1331 digunakan untuk pesawat komersial. "Jadi memang secara umum tidak mempengaruhi operasional penerbangan lain," ujar Turah.

    Menurut Turah, landasan pacu latihan Sukhoi ditutup pukul 13.20 Wita. Aktivitas di landasan pacu yang lama itu baru berjalan normal pukul 14.45 Wita.

    ABDUL RAHMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.