Tentara Meninggal Saat Padamkan Kebakaran, Diduga karena Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota TNI berusaha memadamkan api yang membakar perkebunan kelapa sawit di desa Padamaran, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, 12 September 2015. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan menyebabkan beberapa wilayah diselimuti asap. REUTERS/Beawiharta

    Sejumlah anggota TNI berusaha memadamkan api yang membakar perkebunan kelapa sawit di desa Padamaran, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, 12 September 2015. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan menyebabkan beberapa wilayah diselimuti asap. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Detasemen Rudal 004 Dumai, Riau, Prajurit Satu Wahyudi, meninggal dunia ketika sedang memadamkan kebakaran lahan dan hutan di Rokan Hilir, Riau. Sebelum jasadnya ditemukan, Wahyudi dinyatakan hilang selama enam hari saat kebakaran hutan melanda Rokan Hilir.

    “Kami semua berduka atas kepergian almarhum,” ucap Kepala Penerangan Korem 031 Wira Bima Pekanbaru Mayor Infanteri Syafriyanto, Rabu, 24 Agustus 2016.

    Syafriyanto mengatakan jenazah Wahyudi ditemukan pada Selasa, 23 Agustus 2016. Jenazah ditemukan sekitar 250 meter dari lokasi pertama korban dinyatakan hilang, tepatnya di sekitar kawasan hutan Kepenghuluan Labuhan Tangga Besar, Kampung Medan, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir.

    Menurut Syafriyanto, sebelum menghilang, Wahyudi bersama personel Detasemen Rudal 004 Dumai lain tengah berusaha memadamkan kobaran api di hutan Kepenghuluan Labuhan Tangga Besar. Mereka membantu Badan SAR Nasional untuk memadamkan kebakaran hutan tersebut.

    Ia menduga Wahyudi meninggal lantaran kekurangan oksigen dalam kepungan asap tebal saat memadamkan api.

    Sehari sebelum ditemukan, Komandan Korem 031 Wira Bima Brigadir Jenderal Nurendi menggelar doa bersama. Nurendi juga memerintahkan tentara, bersama polisi, Basarnas, dan masyarakat, mencari Wahyudi. “Wahyudi gugur dalam tugas,” ujar Nurendi.

    Karena peristiwa ini, Syafriyanto mengecam para pelaku kebakaran hutan dan lahan. Dia mempertanyakan hati nurani para pelaku. “Berapa banyak korban lagi harus jatuh sampai mereka ini sadar bahwa tindakannya salah,” tuturnya.

    DANANG FIRMANTO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.