Setuju Harga Rokok Naik, Risma: Anak-anak Jangan Merokok  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meninjau Taman Gantung usai diresmikan di gedung Siola Jalan Tunjungan Surabaya, 26 Juli 2016. TEMPO/MOHAMMAD SYARRAFAH

    Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meninjau Taman Gantung usai diresmikan di gedung Siola Jalan Tunjungan Surabaya, 26 Juli 2016. TEMPO/MOHAMMAD SYARRAFAH

    TEMPO.CO, Surabaya - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini setuju wacana kenaikan harga rokok hingga Rp 50 ribu per bungkus. Menurut dia, cara itu memungkinkan mengurangi perokok pasif di Indonesia. “Mungkin anak-anak tidak jadi merokok kalau mahal,” kata Risma seusai peluncuran Lomba Green and Clean di Graha Sawunggaling, gedung Pemerintah Kota Surabaya, Senin, 22 Agustus 2016.

    Wali Kota perempuan pertama di Kota Surabaya ini mengaku selalu mengimbau anak-anak untuk tidak merokok. Anak-anak, kata dia, belum waktunya merokok. “Mereka belum waktunya, ndaklah… janganlah….”

    Pemerintah Kota Surabaya akan mematuhi ketentuan dan keputusan pemerintah pusat apabila menaikkan harga rokok hingga Rp 50 ribu per bungkus. Pemerintah Kota tidak bisa berbuat apa-apa apabila pemerintah pusat memutuskan kenaikan itu. “Kalau pemerintah pusat sudah memutuskan, kami tidak bisa bertindak sendiri,” ujar Wali Kota Risma.

    Selama ini, Pemerintah Kota Surabaya sudah berusaha menekan jumlah perokok. Caranya dengan membatasi ruang untuk perokok di tempat-tempat umum. Hal ini tertuang dalam Perda Nomor 5 Tahun 2008 tentang Kawasan Tanpa Rokok dan Terbatas Merokok. Perda itu membatasi ruang bagi perokok di tempat umum, dan menerapkan sanksi bagi pelanggarnya.

    Sebelumnya, pemerintah menyatakan akan memperhatikan usulan kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus. Hasil survei Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Manusia Universitas Indonesia tentang rokok yang dirilis pada Juli 2016 menunjukkan bahwa harga rokok yang ideal untuk mencegah pelajar dan orang miskin harus dibanderol Rp 50 ribu per bungkus.

    Pengumpulan data sudah dilakukan dari Desember 2015 sampai Januari 2016. Survei ini berdasarkan wawancara pada 1.000 responden. Hasilnya 82 persen responden setuju harga rokok dinaikkan. Bahkan, 72 persen responden menyatakan setuju harga rokok dinaikkan di atas Rp 50 ribu, untuk mencegah pelajar merokok. Selama ini, harga rokok di bawah Rp 20 ribu dinilai menjadi penyebab tingginya jumlah perokok. Hal itu membuat orang yang kurang mampu hingga anak-anak sekolah mudah membeli rokok.

    MOHAMMAD SYARRAFAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.