Tim Indepeden Usut Misteri Video Sebelum Freddy Dieksekusi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan aktivis melakukan aksi solidaritas terhadap Koordinator Kontras Haris Azhar #MelawanGelap di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 5 Agustus 2016. Haris dilaporkan ke polisi setelah mengungkap testimoni bandar narkoba Freddy Budiman soal keterlibatan oknum-oknum TNI, Polri, dan BNN. TEMPO/Subekti

    Puluhan aktivis melakukan aksi solidaritas terhadap Koordinator Kontras Haris Azhar #MelawanGelap di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 5 Agustus 2016. Haris dilaporkan ke polisi setelah mengungkap testimoni bandar narkoba Freddy Budiman soal keterlibatan oknum-oknum TNI, Polri, dan BNN. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Tim Independen Mabes Polri, Hendardi, membenarkan pengakuan Freddy Budiman kepada Koordinator Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar. Hal ini berdasarkan kesaksian John Key, terpidana kasus pembunuhan yang turut hadir dalam pertemuan itu. "Jadi, benar itu tidak ada yang dilebihkan dan dikurangi," kata Hendardi saat dihubungi, Jumat, 19 Agustus 2016.

    Dalam testimoni Haris berjudul "Cerita Busuk Seorang Bandit", Freddy mengaku bisnis narkobanya melibatkan Tentara Nasional Indonesia, Polri, dan Badan Narkotika Nasional. Freddy juga mengaku memberikan upeti Rp 450 miliar kepada anggota BNN dan Rp 90 miliar kepada polisi. Haris mendapatkan kesaksian dari terpidana mati narkoba itu di sela kunjungan ke Lapas Nusakambangan pada 2014.

    Tak hanya John Key yang membenarkan pertemuan Haris dan Freddy beserta testimoninya itu. Kata Hendardi, beberapa saksi yang telah dimintai keterangan juga menyatakan hal yang sama. Namun, ia enggan menjelaskan siapa saja yang dimaksud. "Kami akan mengecek kembali kepada saksi-saksi lainnya, seperti dua pendeta dan mantan Kalapas Batu Pak Sitinjak yang disebut dalam testimoni Haris," ujarnya.

    Soal rekaman Circuit Closed Television (CCTV), Hendardi menyatakan ruang pertemuan mereka memang tak dilengkapi dengan kamera pengintai. CCTV hanya ada di ruang isolasi dan ruang tahanan dengan hukuman maksimal. Hendardi berujar, timnya tidak mencari fakta terkait siapa yang mencopot CCTV di ruang tahanan Freddy. Musababnya, hal itu menjadi ranah Badan Narkotika Nasional.

    "Kami fokus mencari fakta terkait ada setoran Rp 90 miliar dari Freddy kepada oknum petinggi Mabes Polri," Direktur Setara Institute itu. Di ruang pertemuan, pengunjung dilarang membawa perangkat elektronika, termasuk telepon seluler dan alat perekam. "Sehingga memang pertemuan itu tidak ada bukti rekaman. Tapi, saksi kan banyak. Jadi, bisa kami cek," tutur Hendardi.

    Rencananya, tim pencari fakta juga akan meminta rekaman video Freddy Budiman sebelum dieksekusi mati. Beredar kabar bahwa video tersebut berisi pengakuan Freddy terkait siapa saja yang menerima uang setorannya. "Tapi, kami belum mendapatkan apa isinya. Nanti kami mintakan," kata Hendardi.

    DEWI SUCI RAHAYU

    Baca Juga
    Jika Mega Dukung Ahok, Begini Cara PDIP Meredam Pembangkang
    Ahok Kisahkan Pertemuannya dengan Megawati di DPP PDIP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.