Penyanderaan WNI, Elona: Kapan Suami Saya Bisa Bebas?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi Filipina mengawal sandera Indonesia Muhammad Sofyan yang berhasil melarikan diri dari sekapan militan Abu Sayyaf, di Jolo, Sulu, Filipina selatan 17 Agustus 2016. Sofyan merupakan satu dari tujuh awak kapal Charles 001 yang disandera sejak 21 Juni lalu. REUTERS/Stringer

    Polisi Filipina mengawal sandera Indonesia Muhammad Sofyan yang berhasil melarikan diri dari sekapan militan Abu Sayyaf, di Jolo, Sulu, Filipina selatan 17 Agustus 2016. Sofyan merupakan satu dari tujuh awak kapal Charles 001 yang disandera sejak 21 Juni lalu. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Samarinda - Keluarga lima sandera mengkhawatirkan kondisi mereka setelah dua sandera lainnya, M Sofyan dan Ismail ditemukan setelah melarikan diri dari sekapan penyandera. Lolosnya Sofyan dan Ismail bisa saja membuat penyandera marah dan dilampiaskan kepada lima sandera yang tersisa.

    Sebanyak tujuh orang anak buah kapal tug boat TB Charles disandera pada 21 Juni 2016 di perairan Jolo, Filipina. Mereka disandera oleh dua kelompok berbeda saat TB Charles berlayar dari Filipina menuju Samarinda.

    Empat orang di antaranya disebut-sebut berada dalam tangan kelompok Al Habsy Misaya. Mereka adalah M Sofyan (Oil man), Ismail (Mualim I), Robin Piter (Juru Mudi) dan M Nasir (Masinis III).

    Sedangkan tiga lainnya belum diketahui disandera oleh kelompok apa, meski diduga kelompok militan Abu Sayyaf. Tiga orang itu adalah Ferry Arifin (Nakhoda), Mabrur Dahri (Kepala Kamar Mesin) dan Edy Suryono (Masinis II).

    Istri Robin Piter, Elona Ramadhani, lebih banyak menangis karena saat ini masih tidak diketahui nasib suaminya. Ia hanya mendapat informasi, Robin Piter dan M Nasir masih dalam penyanderaan Al Habsy Misaya. "Kami belum tahu kapan suami saya bisa bebas,” kata Elona, Kamis, 18 Agustus 2016.

    Elona meminta keseriusan pemerintah Indonesia agar seluruh sandera dibebaskan. Bahkan sebelumnya Elona menagih janji Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto, yang menyatakan pemerintah tetap berupaya membebaskan para sandera. Sebab, Senin, 15 Agustus 2016, yang merupakan hari ke-55 penyanderaan merupakan batas akhir pembayaran uang tebusan untuk empat sandera oleh kelompok Al Habsy Misaya. "Harapan saya jangan wacana-wacana saja, segera bebaskan suami saya," ujar Elona.

    Sementara Juru Bicara Keluarga Sandera, Kurnia Ginting, tak menampik bebasnya M Sofyan dan Ismal berdampak pada lima orang yang masih disandera. Dia sudah menyampaikan kepada pihak perusahaan, PT Rusianto Bersaudara, agar diteruskan kepada pemerintah menyangkut kepastian pembebasan lima sandera itu. "Kami tegaskan kepada perusahaan agar mencari kepastian kondisi terkini lima sandera lainnya," ucapnya.

    Kamis pagi tadi, Manager Personalia Side Sungai Lais PT Rusianto Bersaudara, Lalu Hadi Sanjay, berkunjung ke posko korban sandera Abu Sayyaf. Namun tidak banyak informasi yang diberikan perusahaan. "Pak Lalu hanya berkunjung sebentar untuk melihat kondisi kami, hanya silaturahmi," tutur Elona.

    M. Sofyan dan Ismail ditemukan di Desa Barangay Bual, Kota Luuk, Sulu, pada Rabu, 17 Agustus 2016. Sofyan ditemukan lebih dulu sekitar pukul 07.30 waktu setempat. Sedangkan Ismail ditemukan sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Informasi ditemukannya kedua sandera itu dikemukakan oleh juru bicara Komando Minandao Barat Mayor Filemon Tan Jr, yang disiarkan media on-line Inquirer.net

    FIRMAN HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.