Arcandra Beri Kultum di Masjid Al-Azhar, Ini Isinya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah orang mengajak Arcandra Tahar untuk berfoto bersama dan saat Arcandra menyambangi Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, 16 Agustus 2016. TEMPO/Bagus Prasetiyo

    Sejumlah orang mengajak Arcandra Tahar untuk berfoto bersama dan saat Arcandra menyambangi Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, 16 Agustus 2016. TEMPO/Bagus Prasetiyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Senyum simpul tak pernah lepas dari bibir Arcandra Tahar. Pria yang baru dicopot jabatannya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu mengenakan kemeja batik lengan panjang dan berdiri di mimbar Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, Selasa, 16 Juli 2016.

    Di masjid itu, usai salat dzuhur, Arcandra diminta untuk mengisi kuliah tujuh menit (kultum). Videonya dimuat di Youtube melalui akun Masjid Agung Al-Azhar. Rekaman itu berjudul Taushiyah Ust. Arcanda Tahar - "Khairu Ummah (Umat Terbaik)".

    Hingga pukul 06.46, Rabu 17 Agustus, video ini ditonton 54.672 kali. Sebanyak 1.586 pengguna Youtube memberikan tanda suka alias "like" dan 39 menyatakan tidak suka. Ada 79 penonton yang membubuhkan komentar.

    Berikut petikan kultum Arcandra Tahar:

    Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
    Alhamdulillahi Rabbil Alamin Wassalatu Wassalamu Anbiya'i Walmursalin Wa'ala Alihi Wa'ashabihi Ajemain. Asyhadu Allah Ilaaha Illallah Wa'asyhadu Anna Muhammadan Abduhu Warasulu Laa Nabiya Ba'da.

    Pertama-tama, marilah kita mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhana Wa Ta'ala karena dengan limpahan rahmatnya kita bisa berkumpul melakukan salat Dzuhur berjamaah pada hari ini.

    Adalah sebuah kehormatan bagi saya bisa berkumpul dengan saudara-saudara saya, seiman, di masjid yang Insya Allah saya tahu betul sejarah adanya masjid ini. Tapi hari ini, saya diberi kesempatan untuk berbicara sedikit, mengasih kultum katanya. Kuliah tujuh menit, ya?

    Baik, saya akan memulai dengan sebuah ayat. Bismillahir rahmanir rahim, wa'tasimu bihabelillahi jami'an. Wala tafarraku. Apa kata Allah? Wa'tasimu bihabelillah; berpegang teguhlah kepada tali Allah, bihabelillah. Jami'a atau jami'an; bersama-sama. Allah tidak mengatakan bihabelillahi nafsan; sendiri-sendiri. Tapi jami'an; bersama-sama. Kemudian Allah menganjurkan wa laa tafarraqu; dan janganlah kamu berpecah-belah.

    Bapak-bapak dan ibu-ibu tahu persis hari kemarin, bahkan tiga minggu yang lalu, saya sendiri juga tidak tahu bahwa saya akan menjadi menteri. Kemudian hari kemarin, juga akhirnya, saya juga tidak jadi menteri lagi.

    Intinya adalah yang namanya jabatan menteri adalah amanah. Apakah ada bedanya pada saat seorang menjabat dengan saat dia turun. Atau saat dia naik atau pada saat dia sebelum menjabat. Rasanya bagi saya, Insya Allah, gak ada bedanya.

    Dalam pidato pelantikan saya di Kementerian ESDM waktu itu, saya mengatakan jabatan itu tidak kekal. Hubungan atasan dan bawahan itu tidak kekal. Yang kekal adalah persahabatan. Kalau kita bersahabat, itulah kekal. Tapi jabatan, sewaktu-waktu diambil oleh Allah dan sewaktu-waktu juga akan diturunkan oleh Allah. Tapi apakah jabatan itu yang kita cari?

    Dalam ayat yang lain Allah mengatakan kuntum chairah ummat ta'muruna bil ma'ruf wa tanhauna anil munkar watu'minuna billah. Kuntum; telah. Kuntum chairah ummat; telah aku jadikan umat terbaik. Ukhrijat linnas; yang pernah aku keluarkan di muka bumi ini. Ukhrijat berasal dari kata kharaja. Ukhrijat; keluarkan. Linnas; kepada manusia.

    Siapa itu umat terbaik? Umat terbaik itu mempunyai tiga ciri. Yang pertama, kata Allah, ta'muruna bil ma'ruf, artinya adalah mengerjakan amar ma'ruf. Wa tanhauna; mencegah kemunkaran.

    Dan kemudian Allah melanjutkan lagi wa tu'minuna billah; dan berimanlah kepada Allah. Pertanyaannya adalah apakah di ayat tersebut dinyatakan bahwa menjadi seorang menteri akan menjadikan kita seorang umat terbaik? Enggak. Allah hanya mengatakan bahwa chairah ummat itu apabila kamu melakukan ta'muruna bil ma'ruf. Melakukan amal ma'ruf, di mana pun posisi kita. Baik itu kita dalam posisi formal sebagai pejabat, atau sebagai masyarakat. Dan itulah ciri pertama sebagai umat terbaik.

    Apakah umat terbaik itu adalah umat Yahudi? Allah mengatakan ukhrijat linnas; aku turunkan kepada manusia dengan ciri yang pertama adalah ta'muruna bil ma'ruf. Ciri yang kedua adalah wa tanhauna anil munkar; mencegah kemungkaran. Di mana pun posisi bapak-bapak, ibu-ibu, apakah seorang pejabat, apakah seorang rakyat, apakah seorang pengusaha, selama kita berpegang teguh kepada ciri kedua, wa tanhauna anil munkar, itulah ciri umat yang terbaik.

    Yang ketiga, kata Allah apa? Wa tu'minuna billah; beriman kepada Allah. Amantu billahi wa malaa ikatihi wa kutubihi wa rusulihi wa yaumil ahir,wal qada'i wal qadar. Apa itu wal qada'i wal qadar? Mungkin di beberapa buku itu menyatakan; takdir yang menyudahi. Manusia hanya bisa berusaha sekuat tenaga, tapi ingatlah, Allah yang menentukan itu pada akhirnya.

    Di mana kita harus beriman mengatakan wal qada'i wal qadar. Nggak ada yang lebih tinggi dari itu. Selain kata-kata wal qada'i wal qadar.

    Mungkin bapak-bapak bertanya pada saya, ke mana Pak rasanya sudah tidak menjadi pejabat lagi? Sekali lagi saya katakan, nggak ada bedanya. Saya masih makan nasi, saya masih orang Indonesia, kebetulan keturunan Padang. Ya?

    Saya belum mampu memakan kayu, belum mampu juga memakan mic ini. Berarti saya masih manusia biasa. Ya?

    Di acara pelantikan, satu kata yang Insya Allah akan saya pegang teguh sekali lagi; Ya Allah, jadikan takutku pada-Mu, Ya Allah, membimbing aku menerima amanat ini.

    Saya meninggalkan Indonesia tahun 96, kembali tiga hari sebelum dilantik. Pelantikan hari Rabu, saya sampai ke Indonesia hari Minggu.

    Kalau Allah berkehendak, kun fayakun, jadi. Dan kita menjadi saksi juga kemarin kalau Allah berkehendak, kun fayakun, jadi. Apakah ini sebuah cobaan? Tadi saya pernah berdiskusi, saya katakan ini bukan cobaan. Semua sudah digariskan oleh Allah. Planner terbaik, the best planner. Manusia bisa merencana, but the best planner, siapa? Allah.

    Robbana atina milladunka rohmah wa hayyi lana min amrina wasyada. Serahkan semua urusan kepada Allah. Kita hanya bisa berusaha. Yang toh nantinya takdir yang menyudahi. Saya pikir sudah tujuh menit. Wabillahi taufik wal hidayah. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu.

    REZKI A | BAGUS PRASETYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Beberkan RAPBN 2020, Tak Termasuk Pemindahan Ibu Kota

    Presiden Jokowi telah menyampaikan RAPBN 2020 di Sidang Tahunan MPR yang digelar pada 16 Agustus 2019. Berikut adalah garis besarnya.