Edisi Kemerdekaan (6): Pasienia, Berbagi Sesama Pasien  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Spanduk Pasienia, sebuah aplikasi berbasis Android untuk pasien. HAND WAHYU

    Spanduk Pasienia, sebuah aplikasi berbasis Android untuk pasien. HAND WAHYU

    TEMPO.CO, Jakarta - Tidak mudah berterus terang soal penyakit yang sedang diidap. Apalagi kalau penyakit itu termasuk penyebab kematian nomor satu di dunia. Hal itulah yang dialami Luciana, 21 tahun. “Awalnya berat ngasih tahu penyakit ini,” ujarnya, saat dihubungi, Rabu pekan lalu.

    Sekarang pun Luciana tidak bisa sangat terbuka menceritakan penyakitnya kepada orang yang bukan kerabat dekat. Seperti ketika Tempo bertanya, Luciana hanya menyebutnya “penyakit tertentu”.

    Namun, sejak April lalu, Luciana tak lagi menutup diri setelah bergabung dengan komunitas pasien penyakit jantung melalui aplikasi Pasienia. “Mereka lebih mengerti karena kami sama-sama merasakan,” ujar mahasiswi hukum Universitas Islam Indonesia itu.

    Pasienia memang diciptakan untuk memecahkan masalah pasien. Chief Executive Officer Pasienia, Fadli Wilihandarwo, 28 tahun, mengatakan banyak pasien—terutama penderita penyakit kronis—merasa sendiri. Dan, mereka tidak mudah menemukan pasien lain yang penyakitnya sama.


    Fadli Wilihandarwo, CEO dan pendiri Pasienia.


    Inspirasi menciptakan Pasienia didapat Fadli saat menemani kawannya penderita kanker periksa ke dokter. Saat berbincang dengan pasien lain, kawannya mendapat banyak informasi. Lebih banyak ketimbang dari dokter yang waktunya terbatas. Hal itu membuatnya jadi bersemangat.

    “Semangat itulah yang saya coba bawa. Pasien bisa saling berbagi dan saling menguatkan,” ujarnya di Rumah Kita, Yayasan Kasih Anak Kanker Yogyakarta, Sabtu dua pekan lalu.

    Menurut psikolog Lifina Dewi Pohan, terkadang ada situasi yang sulit dibayangkan oleh orang lain dan pasien merasa hanya sesama pasien yang memahami. “Diperlukan keterbukaan dari sesama pasien, baik dalam memberi dukungan emosional maupun berbagai informasi,” ujar pengajar psikologi klinis di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, Rabu pekan lalu.

    Fadli adalah sarjana Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam mengelola aplikasi ini, dia bekerja sama dengan Dimas Ragil Mumpuni, 25 tahun, dari Manajemen UGM; dan Haydar Ali Ismail, 22 tahun, lulusan Ilmu Komputer dan Elektronika UGM.

    Ketiganya bertemu saat ikut program inkubasi start-up di UGM pada 2015. Mereka, yang saat itu masih kuliah, awalnya membuat laman rekam medis online. Namun aplikasi tersebut terbentur undang-undang. Lalu mereka membuat situs web Ruangpasien.com. Cuma berjalan dua pekan, karena sulit mengajak dokter dan dana terbatas.

    Pengembangan Pasienia dimulai sejak medio 2015. Setelah validasi, coding, dan pendaftaran aplikasi Android, aplikasi itu akhirnya diperkenalkan ke Google Play pada Februari lalu. Modal awal, untuk domain dan web hosting, Rp 150 ribu diambil dari kantong sendiri.

    Tampilan fitur Pasienia masih sederhana. Ukurannya hanya 6 megabita di Google Play Store, tidak memakan banyak memori sehingga masih bisa diinstal dan digunakan di ponsel.

    Menurut rencana, aplikasi ini akan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pengguna. “Saat ini kami fokus di fitur yang berkaitan dengan komunitas dan juga mengembangkan fitur untuk donor darah,” kata Haydar, Selasa pekan lalu.

    Meski sajian kontennya masih sederhana, Luciana menilai Pasienia sudah cukup efisien. “Gampang diunduh dan memorinya enggak berat,” ujarnya.


    MUH SYAIFULLAH




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.