Isi Doa di Depan Jokowi: Jauhkan Kami dari Pemimpin Khianat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato pada Sidang Bersama DPR dan DPD di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 16 Agustus 2016. Sidang ini beragendakan mendengar pidato kenegaraan Presiden dalam rangka peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato pada Sidang Bersama DPR dan DPD di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 16 Agustus 2016. Sidang ini beragendakan mendengar pidato kenegaraan Presiden dalam rangka peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Di antara hal yang mencolok dalam sidang Pidato Presiden soal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2017 dan Nota Keuangan adalah doa di akhir acara. Doa yang disampaikan anggota DPR Muhammad Syafi'i pada Selasa, 16 Agustus 2016 di Gedung Kura-Kura, Senayan, Jakarta, itu sarat kritikan pada pemerintah.

    Di antara isi doa yang dibacakan oleh Syafi'i tersebut menyangkut masalah hukum, kehidupan ekonomi rakyat, kezaliman aparat negara, serta sikap penguasa yang tak amanah. "Jauhkan kami dari pemimpin yang khianat yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong, dan kekuasaan yang bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat," kata Syafi'i dalam bagian doanya.

    Syafi'i yang berasal dari Fraksi Gerindra ini mengatakan dimana-mana rakyat digusur tanpa tahu kemana mereka harus pergi. Rakyat juga banyak kehilangan pekerjaan. "Di negara ini rakyat ini outsourcing, tidak ada jaminan kehidupan mereka. Aparat seakan begitu antusias untuk menakuti rakyat," kata Syafi'i.

    Dalam doanya Syafi'i meminta agar Allah melindungi rakyat Indonesia. Mereka tidak tahu apa-apa dan mempercayakan kendali negara dan pemerintahan kepada pemerintah. "Allah, kalau ada mereka (para pemimpin) yang ingin bertaubat, terimalah taubat mereka ya Allah. Tapi kalau mereka tidak bertaubat dengan kesalahan yang dia perbuat, gantikan dia dengan pemimpin yang lebih baik di negara ini, ya Allah."

    Syafi'i juga mengkritik penegakan hukum yang bermata dua. Hukum seperti mata pisau yang hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas, sehingga mengusik rasa keadilan. Dia menyebut semua penjara kelebihan kapasitas, tapi masyarakat tidak melihat ada upaya pemerintah mengurangi kejahatan, karena kejahatan seperti diorganisir.

    "Kami tahu pesan dari sahabat nabi-Mu, bahwa kejahatan-kejahatan ini bisa hebat bukan karena penjahat yang hebat tapi karena orang-orang baik belum bersatu atau belum mempunyai kesempatan di negeri ini untuk membuat kebijakan-kebijakan yang baik yang bisa menekan kejahatan-kejahatan itu," kata Syafi'i.

    Kehidupan ekonomi juga jadi sorotan. Syafi'i mengatakan Bung Karno sangat khawatir bangsa Indonesia menjadi kuli di negeri sendiri. Dan kekhawatiran itu dianggap menjadi kenyataan. "Lihatlah Allah, bumi kami yang kaya dikelola bangsa lain dan kulinya adalah bangsa kami," kata Syafi'i.

    Pembacaan APBN 2017 dan Nota Keuangan dilakukan Presiden Joko Widodo. Sidang itu juga dihadiri oleh Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, para menteri Kabinet Kerja, dan para pejabat negara lainnya.

    AMIRULLAH

    Baca Juga
    Satgas Bela Gloria Paskibraka: Menpora Tak Jujur ke Publik

    Ahok Mendadak Puji-puji Jokowi, Terkait Pilgub DKI?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.