Ridwan Kamil Ditantang Eks Wakil Walikota di Pilkada Bandung

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Bandung - Bekas Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda mengaku siap  mencalonkan diri lagi dalam Pemilihan Wali Kota Bandung pada 2018. Ayi berujar tak gentar bersaing dengan wali kota sekarang, Ridwan Kamil, bila dia mencalonkan diri kembali.

    Namun Ayi masih harus menunggu restu dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). "Sebagai kader saya siap untuk jadi calon Wali Kota," kata Ayi saat ditemui di Jalan Anggrek, Kota Bandung, Senin, 15 Agustus 2016.

    Ayi yang pernah bersaing dengan Ridwan pada Pilkada Bandung 2012  tidak mau jumawa. Menurut dia PDIP bisa saja tidak sejalan dengan niatannya untuk kembali maju di ajang yang sama. Selain itu, banyak pula kader-kader PDIP lain yang memiliki niatan serupa.

    "Partai punya mekanisme. Kalau mau nyalon silahkan deklarasi, tapi jangan atas nama partai karena partai punya mekanisme sendiri," ujarnya.

    Meski Ridwan belum menyatakan maju dalam Pilkada Bandung maupun Jawa Barat, Ayi berharap bisa kembali bersaing dengan bekas rivalnya itu. Ayi mengaku telah memiliki jurus yang cukup ampuh untuk menandingi popularitas Ridwan.

    "Memangnya (Ridwan Kamil) harus ditakuti? Saya tidak bicara kelemahan seseorang, tapi saya kira yang harus dikembangkan adalah gagasan dan program yang lebih baik untuk membangun Kota Bandung," tuturnya.

    Ayi mengimbuhkan pertimbangannya ingin kembali mencalonkan diri lantaran kecewa dengan kepemimpinan Ridwan yang dianggap kurang bersentuhan dengan masyarakat secara nyata. Menurut dia, pemerintahan Ridwan  terkesan kaku dan jauh dari masyarakat karena lebih banyak bertemu di media sosial.

    "Ada sisi humanisme yang hilang. Keakraban antara pemerintah dengan masyarakat tidak terasa. Dulu masyarakat dan pemerintah seperti keluarga, kalau sekarang budayanya budaya formal," tuturnya.

    Ayi melihat pembangunan fisik yang dilakukan Ridwan  justur menghilangkan jati diri Sunda yang seharunya tertanam di Kota Bandung. Salah satunya adalah penggunaan bahasa asing dan serapan pada penamaan taman. Padahal, ucap dia, dengan adanya program Rabu Nyunda, penggunaan bahasa Sunda bisa diaplikasikan pada penamaan taman.

    "Membangun peradaban disamping fisik dan infrastruktur, juga harus dibangun moralitas dan budaya. Menurut saya Bandung itu sekarang niru Jakarta gayanya," tuturnya.

    PUTRA PRIMA PERDANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.