'Merayakan Chairil Anwar' Dibuka oleh ERK dan Ceramah GM  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dian Sastro bersiap membaca puisi dalam acara #17anTempo yang bertema Merayakan Chairil Anwar, di gedung Tempo, Jakarta, Senin 15 Agustus 2016

    Dian Sastro bersiap membaca puisi dalam acara #17anTempo yang bertema Merayakan Chairil Anwar, di gedung Tempo, Jakarta, Senin 15 Agustus 2016

    TEMPO.CO, Jakarta - Acara TerasBudaya Tempo bertajuk "Merayakan Chairil Anwar" digelar malam ini, Senin, 15 Agustus 2016. Acara yang dimulai pada pukul 18.30 ini dibuka oleh alunan tembang dari salah satu band indie kenamaan, Efek Rumah Kaca. Selama 30 menit, para tamu disuguhi oleh suara merdu sang vokalis ERK.

    Usai penampilan dari Efek Rumah Kaca, TerasBudaya dilanjutkan dengan sambutan dari Pemimpin Redaksi Tempo Arif Zulkifli. Menurut Arif, penyelenggaraan acara ini diawali dari ide untuk keluar dari glorifikasi sejarah. "Sejarah selalu dianggap glorious, hebat, dan sejarah lebih gagah daripada hari ini."

    Padahal, menurut Arif, pemerintah juga menunjukkan kerja kerasnya untuk memperbaiki negeri. "Hari ini juga tidak kalah hebat. Karena itu, kami ingin memunculkan sesuatu yang humanis. Kami menulis tidak hanya puisi-puisi Chairil yang bergemuruh. Tetapi juga yang lainnya, yang pesimis dan yang takut."

    Setelah Arif memberikan sambutannya, acara dilanjutkan dengan ceramah dari Goenawan Mohamad dengan judul "Aku Mengembara di Negeri Asing". Goenawan merasa gembira sekaligus waswas membicarakan Chairil. "Karena untuk pertama kalinya Hari Proklamasi dikaitkan dengan penyair," tuturnya.

    Biasanya, menurut Goenawan, hari peringatan Kemerdekaan Indonesia dikaitkan dengan tokoh politik atau militer. Penyair, kata dia, merupakan makhluk yang tidak begitu jelas. "Karena itu, saya bicara bukan mengenai tokoh Chairil, tapi bagaimana Chairil meletakkan pemikirannya dalam kesusastraan," ujarnya.

    Pada masa pendudukan Jepang, kata Goenawan, Chairil merupakan contoh gamblang di mana kesusastraan dapat mendobrak wilayah-wilayah yang dijaga oleh tatanan yang ada. "Karena itu, dia bagian dari revolusi yang mana letupannya menciptakan masyarakat yang egaliter," tuturnya.

    Selama 70 tahun Indonesia merdeka, Goenawan menilai, masyarakat sudah bisa mengambil jarak dengan berbagai slogan kebangsaan. Menurut dia, masyarakat sudah bisa memainkan ironi bahkan humor untuk semboyan-semboyan itu. "Bukan untuk mempersetankan kebangsaan, tetapi juga bukan untuk mendewakan kebangsaan."

    Dalam acara TerasBudaya Tempo malam ini, sejumah pesohor akan tampil membacakan puisi Chairil Anwar, yakni Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menteri Keuangan Sri Mulyani, serta beberapa artis, seperti Dian Sastrowardoyo dan Reza Rahardian.

    Selain itu, ada pula Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Agus Rahardjo, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, serta Bupati Karawang Cellica Nurachadiana dan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin.

    Adapun tamu undangan yang hadir terdiri dari berbagai kalangan. Sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana tampak duduk di barisan depan. Ada pula seniman senior Slamet Rahardjo. Di jajaran tamu undangan, hadir pula presenter berita MetroTV, Najwa Shihab, dan juga pendiri Medco, Arifin Panigoro.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.