Anies Baswedan Baca Puisi 'Yang Terampas dan Terputus'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan bersama keluarga berpamitan dengan para pegawai di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 27 Juli 2016. M Iqbal Ichsan/Tempo

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan bersama keluarga berpamitan dengan para pegawai di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 27 Juli 2016. M Iqbal Ichsan/Tempo

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan, dan artis Sophia Latjuba membacakan puisi Chairil Anwar dalam acara Teras Budaya #17antempo berjudul “Merayakan Chairil Anwar” di Gedung Tempo, Jakarta, Senin, 15 Agustus 2016.

    Tampil dalam kesempatan pertama, Hanif membacakan puisi Chairil yang berjudul Tak Sepadan. Puisi ini diawali Hanif dengan melantunkan tembang Jawa, kemudian disambung dengan membaca puisi tersebut. Di bagian akhir, politikus PKB ini menutup puisinya dengan membaca bait ini, "Kau kawin, beranak, dan berbahagia!" Suaranya yang lantang disambut gelak tawa dan tepuk tangan para penonton.

    "Kalau ada kementerian seniman, ada yang sudah siap," ujar Anies meledek Menteri Hanif yang disambut gelak tawa.

    Saat tiba gilirannya membaca puisi, Anies mengawali dengan mengatakan, "Saya enggak tahu kenapa diberi puisi Yang Terampas dan Terputus. ini memang pekerjaan usil para pengirim pesan seluruh negeri," kata Anies, memberi sambutan sebelum memulai membacakan puisi.

    "Kelam dan angin lalu mempesiang diriku, menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin, malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu," demikian cuplikan puisi yang dibacakan Anies dengan nada lembut itu.

    Setelah membaca puisi tersebut, Anies menyampaikan kesannya. "Rasanya Chairil ini menjadi bukti autentik kata-kata menjadi sejarah dan retorika bisa menjadi kuasa. Dan satu lagi, puisi itu abadi," kata Anies.

    Terakhir, artis Sophia Latjuba membacakan puisi Hampa dengan suara lirih. "Sepi di luar. Sepi menekan mendesak. Kaku pohonan. Tak bergerak ke puncak. Sepi memagut, satu kuasa melepas-renggut."

    CHITRA PARAMAESTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.