Presiden Jokowi Saksikan Sumpah Paskibraka 2016  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi menyematkan atribut pada anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Merdeka, Jakarta, 15 Agustus 2016. TEMPO/Subekti.

    Presiden Jokowi menyematkan atribut pada anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Merdeka, Jakarta, 15 Agustus 2016. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengukuhkan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka 2016 di Istana Negara, Senin, 15 Agustus 2016. Dalam upacara pengukuhan, 67 anggota mengucapkan sumpah di depan Presiden Jokowi.

    Seluruh pasukan pengibar bendera berdiri melingkari Istana Negara. Mereka mengucapkan sumpah pada negara dan berjanji memegang teguh ikrar dalam kehidupan sehari-hari.

    "Kami putra Indonesia berideologi Pancasila, kami putra Indonesia adalah generasi penerus perjuangan bangsa, bertekad melaksanakan semangat Bhineka Tunggal Ika," ucap mereka bersamaan.

    Saat ikrar diucapkan, seorang perwakilan anggota Paskibraka, Ade Yuliana Iswan, yang berasal dari Sulawesi, secara simbolis memegang bendera merah putih. Setelah mengucapkan ikrar, Ade mencium bendera tersebut. Presiden Jokowi langsung mengukuhkan pasukan yang akan bertugas dalam upacara kemerdekaan di Istana Merdeka, Rabu, 17 Agustus 2016, itu.

    "Dengan memohon rida Tuhan Yang Maha Kuasa, pada hari ini saya mengukuhkan Saudara-Saudara sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka yang akan bertugas di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2016," kata Presiden. 

    Simak: Foto-foto Pengukuhan Anggota Paskibraka di Istana

    Upacara pengukuhan juga dihadiri sejumlah menteri, antara lain Menteri Koordinator  Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki.

    Anggota Paskibraka yang dilantik seharusnya berjumlah 68 orang. Namun, satu orang, Gloria Natapradja Hamel, tersisih karena masalah kewarganegaraan. Gloria diketahui memiliki paspor Prancis karena ayahnya tercatat sebagai warga negara tersebut.

    Kepala Staf Garnisun Tetap DKI Jakarta Kolonel Yoshua Pangdip Sembiring mengatakan berdasarkan undang-undang, Gloria bukan merupakan warga negara Indonesia karena memegang paspor Prancis. "Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006, jelas dikatakan seseorang kehilangan kewarganegaraan jika dia mempunyai paspor. Nah, ini Gloria punya paspor. Jadi kita harus taat," katanya.

    ANANDA TERESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.