Rawan Dijiplak, Perajin Perak Bali Diminta Punya Hak Cipta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Puspayoga menunjukan surat suara usai menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Denpasar di Denpasar, Bali, 9 Desember 2015. Kota Denpasar memilih kepala daerah (Pilkada) Walikota dan Wakil Walikota Denpasar yang diikuti oleh tiga pasang calon. Johannes P. Christo

    Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Puspayoga menunjukan surat suara usai menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Denpasar di Denpasar, Bali, 9 Desember 2015. Kota Denpasar memilih kepala daerah (Pilkada) Walikota dan Wakil Walikota Denpasar yang diikuti oleh tiga pasang calon. Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga meminta perajin perak di Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali, untuk segera mendaftarkan hak cipta dari karya mereka. “Karya tidak akan bisa dijiplak oleh negara lain,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 13 Agustus 2016.

    Puspayoga yakin bahwa kerajinan dari Indonesia berpotensi ekspor. Namun, lantaran belum terdaftakan hak cipta, karya-karya tersebut sering ditiru oleh negara lain. Ia mengatakan pihaknya telah memfasilitasi pemberian hak cipta bagi para UKM.

    Puspayoga memastikan pengajuan hak cipta tidak memerlukan waktu yang lama. Selain itu, tidak ada biaya pungutan. “Hanya satu jam selesai,” ujar dia. Ia menambahkan bahwa pendaftaran hak cipta produk yang dulunya dilakukan oleh Kementerian Hukum dan HAM kini bisa dilakukan oleh kementeriannya.

    Puspayoga pun menceritakan perihal pengurusan hak cipta ketika menjadi Wali Kota Denpasar. Saat itu, pengurusan hak cipta masih lama, sekitar 6 bulan. Bahkan biayanya pun mencapai Rp 4 juta. Namun sekarang, ia memastikan sudah ada kemudahan baik dari proses pengurusan hingga tanpa pungutan.

    Khusus untuk di Desa Celuk, Bali, Puspayoga yakin perhiasan perak di daerah itu mampu bersaing di pasar luar negeri. Ia tidak meragukan segi kualitas dari perhiasan perak tersebut. Hanya, ia mendorong para perajin untuk berani memanfaatkan sarana digital sebagai langkah promosi.

    Di samping itu, Puspayoga tetap berpesan agar kualitas perhiasan perak di Celuk tetap ditingkatkan. Puspayoga menambahkan, Desa Celuk sudah terkenal akan hasil karya perhiasan perak. Bahkan desa itu telah menghasilkan kerajinan perak sejak 100 tahun lalu.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.