KPU DKI Jakarta Akan Fasilitasi Pemilih Disabilitas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pemilu. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Ilustrasi pemilu. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.COJakarta - Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno mengatakan pemilu 2017 diharapkan bisa diikuti semua pemilih, tanpa hambatan. "Salah satunya terkait dengan penyandang disabilitas," katanya di Hotel Bluesky, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Agustus 2016. 

    Semua warga Jakarta yang telah memiliki hak konstitusional untuk ikut memilih harus dipastikan mendapat hak memilih tersebut. Karena itu, penyandang disabilitas akan difasilitasi adanya pemilu akses. 

    Beberapa hal yang akan dipersiapkan KPU DKI Jakarta menyangkut pemilu akses ini di antaranya, saat pendaftaran pemilih, akan ada kolom disabilitas. "Kolom ini untuk mengetahui berapa jumlah dan jenis disabilitas yang dialami."

    Tempat pemungutan suara (TPS) juga akan disesuaikan dengan para penyandang disabilitas. TPS yang berada di tempat yang datar atau tidak bertangga-tangga serta pintu masuk yang lebih lebar bertujuan agar pengguna kursi roda dapat masuk. 

    Selain itu, pada November mendatang, KPU DKI Jakarta akan membentuk relawan demokrasi. "Kami akan libatkan penyandang disabilitas untuk terlibat dalam relawan demokrasi," tuturnya. Relawan demokrasi inilah yang nanti akan membantu proses berjalannya pemilu di TPS. 

    Semua TPS di Jakarta akan mendapatkan surat suara yang bertulisan “Braille”. "Mengapa semua? Karena pemilih itu, kan, ada yang mobile, jadi disediakan." 

    Untuk pemilihan Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDT), Sumarno mengatakan, bila telah ada, mereka harus mendata pemilih dengan benar untuk keperluan data. Mereka yang akan terlibat sebagai PPDT juga diharapkan orang-orang di sekitar TPS atau mereka yang kenal dengan lingkungan sekitar TPS. "Sehingga memudahkan untuk mendata karena sudah kenal." 

    ODELIA SINAGA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.