Kalla: Kasus Jessica, Polisi Harus Melek Teknologi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso mengecek berkas perkaranya saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 10 Agustus 2016. Pada sidang kali ini saksi ahli Mohammad Nuh menjelaskan secara detail rekaman CCTV pada saat asal mula kejadian hingga terjadi pembunuhan korban Wayan Mirna Salihin di Cafe Olivier, Grand Indonesia pada Januari lalu. TEMPO/Eko siswono Toyudho

    Terdakwa kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso mengecek berkas perkaranya saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 10 Agustus 2016. Pada sidang kali ini saksi ahli Mohammad Nuh menjelaskan secara detail rekaman CCTV pada saat asal mula kejadian hingga terjadi pembunuhan korban Wayan Mirna Salihin di Cafe Olivier, Grand Indonesia pada Januari lalu. TEMPO/Eko siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Polri meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugas dan fungsinya, termasuk di bidang teknologi. Sebab, tantangan Polri masa kini jauh lebih sulit dibanding masa lalu.

    "Dahulu masalah polisi tentu kriminal atau kejahatan yang diselesaikannya sangat sederhana dibandingkan sekarang. Pencurian, perampokan, penipuan, atau kejahatan-kejahatan lainnya, namun pada dewasa ini sangat berbeda," kata Kalla saat menghadiri peluncuran buku Jenderal Polisi RS Soekanto Tjokrodiatmodjo, Kamis, 11 Agustus 2016, di kampus Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta.

    Kalla mencontohkan kasus kopi bersianida yang menewaskan Mirna Wayan Salihin. Kasus itu menjadikan Jessica sebagai terdakwa pembunuhan. Kalla mengaku menyaksikan sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat itu melalui siaran televisi pada Rabu malam. Sidang itu menghadirkan saksi ahli IT yang menganalisis rekaman CCTV secara digital forensik tentang siapa yang menaburkan sianida ke dalam kopi Mirna.

    "Bagaimana diskusi diracun atau tidak di restoran, begitu rumit dibandingkan dulu. Kalau dulu pelaku digertak sedikit mungkin selesai, sekarang tentu metode ilmiah solusinya," kata Kalla.

    Artinya, Kalla melanjutkan, Polri harus menguasai teknologi disamping kemampuan fisik dan otak. Kemampuan ini akan meningkatkan fungsi Polri dalam melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat maupun dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dan menegakan hukum.

    Fungsi tersebut telah diletakkan Kepala Polri pertama, yakni Jenderal Soekanto. "Sama kata-katanya, tapi tugasnya beda. Saat ini banyak kejahatan di bidang keuangan, terorisme, tentu waktu itu berbeda," kata Kalla.

    Soekanto, kata Kalla, adalah Kapolri yang menjabat paling lama dalam sejarah Indonesia. Dia menjadi pimpinan korps Tribrata selama 14 tahun pada 1945-1959. "Kita memperingati beliau sebagai pendiri Kepolisian, kita harus melaksanakan tugas dengan cara berbeda, teknologi yang berbeda, sesuai zamannya," kata Kalla.

    Buku perjalanan hidup Soekanto ini ditulis Awaloedin Djamin dan Ambar Wulan. Awaloedin adalah pucuk pimpinan Polri kedelapan yang menjabat Kapolri pada 1978-1982. Dalam sambutannya, Awaloedin menjelaskan jasa-jasa besar Soekanto sebagai Kepala Kepolisian Nasional pertama. Soekanto dianggap sangat tepat ditetapkan menjadi Bapak Kepolisian Negara Republik Indonesia dan peletak dasar kepolisian nasional yang profesional dan modern.

    "Soekanto tidak hanya tokoh besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, tapi juga tokoh besar bangsa Indonesia yang perlu dihargai, dibanggakan, dan menjadi panutan bagi generasi sekarang dan mendatang," kata Awaloedin.

    AMIRULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.