Ingin Upacara di Istana, Pria Ini Jalan Kaki Cilacap-Jakarta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wijianto alias Cah Gareng (kanan) berjalan kaki melintasi kampus Universitas Hasanuddin di Makassar, 15 Maret 2016. Cah Gareng yang berusia 33 tahun ini memulai perjalanannya dari Jakarta pada November 2015. TEMPO/Sakti Karuru

    Wijianto alias Cah Gareng (kanan) berjalan kaki melintasi kampus Universitas Hasanuddin di Makassar, 15 Maret 2016. Cah Gareng yang berusia 33 tahun ini memulai perjalanannya dari Jakarta pada November 2015. TEMPO/Sakti Karuru

    TEMPO.CO, Tegal - Demi mewujudkan niatnya bertemu Presiden Joko Widodo saat upacara peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus, Watimin, 34 tahun, berjalan kaki dari Cilacap hingga Jakarta.

    Tangan kanannya memegang bambu diikat bendera merah-putih. Menggunakan ikat kepala yang juga berwarna merah-putih, serta menenteng ransel yang berisi pakaian dan perbekalan, dia menyusuri jalan menuju Ibu Kota. Watimin menempelkan kertas yang sudah dilaminating di rangselnya bertuliskan, “Menyambut HUT RI ke-71 Jalan Kaki dari Pucung Lor-Kroya-Cilacap menuju Jakarta."

    Watimin berniat menemui Presiden Joko Widodo di Istana Negara bertepatan dengan upacara peringatan detik-detik proklamasi. “Yang penting saya bisa bertemu dan salaman sama Bapak Presiden,” kata Warga Desa Pucung Lor, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, ini kepada Tempo yang menemuinya di Kota Tegal.

    Watimin mengaku ingin ikut upacara di Istana bareng kepala negara. “Saya cinta Tanah Air, cinta sekali. Ingin melihat langsung bendera merah-putih berkibar di Istana Negara,” ujar lelaki 34 tahun ini.

    Watimin berujar berangkat dari rumahnya pada Senin, 8 Agustus 2016, sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu, keluarga dan sejumlah tetangganya ikut mengantar sampai jalan raya. Kepala desa setempat beserta sejumlah perangkatnya juga turut melepas pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini. “Alhamdulillah keluarga menyetujui. Teman-teman juga ikut mengarak saya,” katanya.

    Watimin hanya berbekal ketupat dan beberapa lauk-pauk. Uang yang dia bawa hanya Rp 150 ribu. Dengan bekal itu, dia mengaku mengirit segala sesuatunya selama di perjalanan. Dia hanya menjatah makan satu hari sekali pada pagi hari. Selebihnya dia hanya mengandalkan minum air putih. “Kalau banyak makan malah jadi berat, yang penting minumnya,” ujarnya.

    Watimin berjalan melalui jalur Purwokerto-Tegal. Dilanjutkan ke pantai utara menyusuri Tegal-Brebes-Cirebon, hingga Jakarta. Selama di perjalanan dia selalu mampir ke kantor kepolisian sektor yang dia lewati untuk meminta stempel dan tanda tangan atau sekadar istirahat. Menurut dia, hal itu untuk membuktikan dia benar-benar jalan kaki. Dia juga selalu mampir ke musala untuk menunaikan salat. “Kalau urusan salat saya tidak pernah ketinggalan,” katanya.

    Dia menargetkan tiba di Jakarta pada Selasa, 16 Agustus 2016. Dia berharap, Jokowi bisa menerima kedatangannya dan diperbolehkan ikut menjadi peserta upacara peringatan detik-detik proklamasi di Istana Negara. “Kalau ditolak ya, mau bagaimana lagi, pulang ke Cilacap,” tuturnya.

    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.