Full Day School, Pendukung Jokowi: Bikin Gaduh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 40 mahasiswa UNNES PPL Internasional. dok/unnes.ac.id KOMUNIKA ONLINE

    40 mahasiswa UNNES PPL Internasional. dok/unnes.ac.id KOMUNIKA ONLINE

    TEMPO.CO, Jakarta - Joanes Joko, Koordinator Nasional Duta Joko Widodo, membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Joanes memberikan pernyataannya terkait wacana sekolah sehari penuh atau Full Day School yang digagas Muhadjir.

    Joanes menganggap wacana tersebut kini menimbulkan kegaduhan di masyarakat. "Seolah ini adalah solusi ampuh dan jitu untuk mempersiapkan anak-anak kita menghadapi masa depan," kata Joanes dalam petikan suratnya, Selasa, 9 Agustus 2016.

    Joanes, dalam surat terbukanya, turut memberikan masukan kepada Muhadjir. Salah satu masukannya adalah dengan membuat ruang publik agar anak-anak bisa berinteraksi dan mengekspresikan diri dengan hal positif. Apalagi, menurut dia, saat ini jumlah lapangan dan sarana olahraga semakin tergusur oleh gedung, pperumahan, dan mal.

    Baca:
    Mendikbud Usulkan Full Day School, Ini Alasannya
    Kak Seto Minta Full Day School Dipertimbangkan Lagi 

    Sebagai seorang pejabat pemerintahan, Joanes meminta Muhadjir untuk memikirkan regulasi terkait siaran televisi yang dianggap meracuni anak-anak. "Proses pendidikan hanya akan seperti orang yang mengisi air ke dalam tong bocor," ujarnya.

    Selain itu, Joanes juga meminta agar Muhadjir turut memikirkan anak-anak dengan pola belajar auditory kinestetik. Sebabnya, pola pendidikan saat ini masih menerapkan pola pengajaran visual yang mengedepankan nilai akademis. Akibatnya, malah melahirkan generasi penuh dengan tekanan yang menghalalkan segala cara demi keberhasilan akademis.

    Kualitas ribuan guru, kata dia, semestinya ditingkatkan dan jangan sampai menjadi pendidik ala kadarnya karena sikap abai dari pemerintah terhadap nasib mereka. Joanes berharap agar Muhadjir mengingat asal kata "sekolah" yang berasal dari bahasa latin 'schola'. "Yang berarti waktu luang yang diberikan untuk belajar," tuturnya.

    Joanes turut memasukkan sebuah filosofi dari seorang filsuf kuno bernama Lucius Anneus Seneca yang terkenal dengan kalimatnya 'Non schole, sed vitae discimus' yang artinya, 'Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup'. "Itu adalah PR-PR (pekerjaan rumah) yang semestinya dipikirkan dan diselesaikan kementerian anda ketimbang berwacana dan menimbulkan kegaduhan publik," ucap Joanes.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.