Dihadang Koalisi Kekeluargaan, Golkar Setia Dukung Ahok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum terpilih Partai Golkar, Setya Novanto dan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham mengibarkan bendera partai saat penutupan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, 17 Mei 2016. Setya Novanto memilih Idrus Marham tetap sebagai Sekretaris Jenderal Partai Golkar. TEMPO/Johannes P. Christo

    Ketua Umum terpilih Partai Golkar, Setya Novanto dan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham mengibarkan bendera partai saat penutupan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, 17 Mei 2016. Setya Novanto memilih Idrus Marham tetap sebagai Sekretaris Jenderal Partai Golkar. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.COJakarta - Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Partai Golkar Idrus Marham mempertegas dukungan partainya terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017.

    Dia mengatakan adanya Koalisi Kekeluargaan yang dibentuk tujuh partai politik adalah fenomena yang biasa terjadi menjelang pilkada. “Yang penting adalah koalisi kepartaian dan koalisi kerakyatan, dan itulah Ahok. Sebagai satu-kesatuan, pencerminannya adalah di situ ada partai dan di situ ada Teman Ahok,” kata Idrus di kantor DPP Partai Golkar, Selasa, 9 Agustus 2016.

    Dia mengatakan strategi Golkar dalam mendukung Ahok sangat sederhana. Dengan menyatu bersama rakyat, kata dia, bersatunya partai pendukung Ahok dengan Teman Ahok adalah satu-kesatuan di tengah rakyat.

    BacaDidukung Golkar, Ahok: Seperti Kembali ke Rumah

    Penjelasan Golkar ini muncul di tengah santernya kabar bahwa partai berlambang beringin itu akan hengkang dari koalisi partai pendukung Ahok, selain Partai NasDem dan Hanura, setelah pendaftaran calon perseorangan ditutup kemarin, Senin, 8 Agustus. Ahok belakangan memutuskan maju dalam pilkada lewat partai politik, walau sebelumnya menyatakan akan melalui jalur perseorangan dengan bekal 1 juta KTP dukungan. 

    Idrus mengatakan langkah yang akan dilakukan kelak adalah mengekspos kinerja Ahok sebagai gubernur yang melanjutkan Jokowi. “Contoh Kalijodo, melihat satu ini saja sudah satu prestasi besar, belum yang lain,” ujarnya.

    Dia mengatakan tak terlalu memikirkan siapa pun yang akan menjadi lawan Ahok. Yang Golkar pikirkan, kata dia, bagaimana koalisi kepartaian-kerakyatan betul-betul riil ada di rakyat. “Siapa pun lawannya, kalau ini sudah menyatu, kami menang,” tuturnya.

    AKMAL IHSAN | MS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.