Kondisi Lumbis Ogong di Perbatasan Malaysia Memprihatinkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa-siswa SD Negeri 7 Binter berpose bersama gurunya saat sesi foto di depan sekolah mereka di Lumbis Ogong, Nunukan, Kalimantan Utara. TEMPO/Danang Firmanto

    Siswa-siswa SD Negeri 7 Binter berpose bersama gurunya saat sesi foto di depan sekolah mereka di Lumbis Ogong, Nunukan, Kalimantan Utara. TEMPO/Danang Firmanto

    TEMPO.COBalikpapan - Kondisi Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dinilai memprihatinkan. Sarana dan prasarana umum di kecamatan seluas 154 ribu hektare yang dihuni ratusan jiwa itu juga minim.

    Hal itu dikemukakan anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat, Hetifah Sjarifudian, yang baru saja meninjau Kecamatan Lumbis Ogong. Dia mengatakan, dengan kondisi yang memprihatinkan, penduduk Lumbis Ogong sangat bergantung pada negara tetangga, Malaysia. “Mereka mendapatkan suplai kebutuhan dengan berniaga di Malaysia,” katanya saat dihubungi Tempo, Senin, 8 Agustus 2016.

    Hetifah mengisahkan, akses menuju Lumbis Ogong juga terbatas. Ia berangkat dari Balikpapan menggunakan pesawat terbang hingga Tarakan, yang dilanjutkan ke Nunukan. “Dari Pulau Nunukan, untuk menuju Lumbis Ogong, harus ditempuh perjalanan selama 10 jam. Itu sudah termasuk menumpang kapal long boat dan perjalanan darat,” ujarnya seraya mengatakan, “Sangat jauh dan melelahkan.”

    Menurut Hetifah, pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mengalokasikan anggaran hingga triliunan rupiah untuk pembangunan seluruh kawasan perbatasan Indonesia. Pada 2016, alokasi anggaran bagi kawasan perbatasan sebesar Rp 180 miliar.

    Dana itu tersebar di sejumlah kementerian terkait. Masing-masing kementerian membuat program kerja. Namun penggunaannya ataupun pelaksanaan program kerja masing-masing kementerian susah diawasi. “Akhirnya anggaran hanya untuk koordinasi antarlembaga,” ucapnya.

    Hetifah berharap dana pengembangan wilayah perbatasan sepenuhnya dikelola Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Badan itulah yang diminta mengeksekusi permasalahan kebutuhan mendasar yang masyarakat di wilayah perbatasan di Indonesia. Termasuk masalah konektivitas daerah perbatasan dengan daerah lain.

    Lumbis Ogong merupakan kawasan perbatasan yang berhadapan langsung dengan Sabah, Malaysia. Dari kecamatan di perbatasan Indonesia-Malaysia itu, hanya dibutuhkan waktu 15 menit jalan kaki untuk masuk ke wilayah Malaysia.

    Setelah menempuh perjalanan hanya sekitar satu jam, warga sudah mendapati jalan tol yang menghubungkan Pensiangan, Sapulut, Matiku, Nabawan, hingga Keningau, Sabah, Malaysia.

    Mayoritas warga Lumbis Ogong mengantongi identity card Malaysia, yang memungkinkan mereka beraktivitas serta mendapatkan hak-hak layaknya warga negara Malaysia.

    SG WIBISONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.