Kisruh di Makassar, Polisi Bangkalan Dilarang Komentar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kaca kantor pecah akibat aksi penyerangan yang dilakukan pihak kepolisian ke kantor Balai Kota Makassar, 7 Agustus 2016. Bentrokan itu dipicu kesalah pahaman antara dua anggota Sabhara Polrestabes, yaitu Bripda Hendrik dan Bripda Asmat yang terlibat percecokan dengan seorang anggota Satpol PP, Safri. TEMPO/Fahmi Ali

    Kaca kantor pecah akibat aksi penyerangan yang dilakukan pihak kepolisian ke kantor Balai Kota Makassar, 7 Agustus 2016. Bentrokan itu dipicu kesalah pahaman antara dua anggota Sabhara Polrestabes, yaitu Bripda Hendrik dan Bripda Asmat yang terlibat percecokan dengan seorang anggota Satpol PP, Safri. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.COBangkalan - Kepala Kepolisian Resor Bangkalan, Jawa Timur, Ajun Komisaris Besar Anisullah M. Ridha, melarang anggotanya menulis status dan komentar apa pun di media sosial, seperti Facebook dan Twitter, mengenai bentrok antara polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Kota Makassar pada Ahad dinihari kemarin. 

    "Kalau hanya ucapan belasungkawa silakan, kalau komentar yang menyudutkan atau membela salah satu pihak tidak boleh," kata Anis seusai upacara serah-terima jabatan Kepala Satuan Intel Polres Bangkalan, Senin, 8 Agustus 2016.

    Anis khawatir status dan komentar bernada membela salah satu institusi di media sosial akan memperkeruh suasana dan membuat hubungan antara polisi dan Satpol PP di daerah lain, terutama Bangkalan, menjadi tegang dan tidak harmonis. "Sebagai sesama anggota Polri, kalian pasti punya solidaritas," ujarnya. Ia mengharuskan anggotanya menahan diri karena kasusnya sudah ditangani Polda. "Saya ingatkan jangan berkomentar apa pun di medsos." 

    Tidak hanya dilarang berkomentar, Anis juga meminta anggotanya tidak mudah mempercayai status dan komentar yang menyudutkan salah satu pihak terkait dengan bentrok di Makassar yang mengatasnamakan polisi. Status dan komentar semacam itu, kata dia, bisa saja sengaja dibuat untuk memperkeruh suasana. 

    Menurut Anis, hubungan polisi dan Satpol PP di Bangkalan harmonis. "Jadi jangan mudah terpancing isu di media sosial." 

    Bentrok di Makassar antara polisi dan Satpol PP menewaskan Bripda Michael Abraham Rieuwpassa, 22 tahun, dan melukai Bripda Nelson, anggota Satuan Sabhara Polda Sulawesi Selatan. Michael tewas akibat luka tikaman di punggung, sedangkan Nelson terluka tangan kirinya akibat sabetan senjata tajam.

    Bentrok itu merupakan buntut pengeroyokan dua anggota kepolisian oleh sejumlah anggota Satpol PP di anjungan Pantai Losari pada Sabtu, 6 Agustus 2016. Ceritanya, dua anggota Sabhara Polrestabes Makassar, Hendrik dan Asmat, keduanya berpangkat bripda, masuk ke anjungan Losari mengendarai sepeda motor dan berpakaian dinas.

    Safri, anggota Satpol PP yang sedang bertugas di anjungan, menegur mereka. Entah apa pemicunya, Safri dan kedua polisi cekcok. Cekcok itu kemudian berujung pengeroyokan terhadap Hendrik dan Asmat oleh anggota Satpol PP lainnya. Keduanya menderita luka lebam di wajah. Setelah berhasil dilerai, Hendrik dan Asmat melapor ke Polrestabes.

    Pengeroyokan tersebut membuat teman-teman Hendrik dan Asmat membalas. Puluhan polisi pada Ahad dinihari menyerang Balai Kota Makassar, tempat anggota Satpol PP berkantor. Kaca-kaca dan sejumlah sepeda motor dirusak.

    Karena diserang, anggota Satpol PP yang tengah berada di Balai Kota melawan dengan batu dan sangkur. Saat itulah Bripda Michael terkena tusukan dan tewas di rumah sakit. Polisi telah menahan seorang anggota Satpol PP Makassar karena diduga sebagai penusuk Michael. 

    MUSTHOFA BISRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.