Wali Kota Makassar Tinjau Lokasi Bentrokan Polisi dan Satpol PP  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Balaikota Makassar. TEMPO/Iqbal Lubis

    Balaikota Makassar. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Makassar - Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, Minggu, 7 Agustus 2016, meninjau Balai Kota Makassar, yang menjadi lokasi bentrokan antara aparat Kepolisian Resor Kota Besar Makassar dengan anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kota Makassar. "Kami sangat prihatin. Ini diluar perkiraan kita semua," kata Wali Kota yang akrab dengan sapaan Danny itu kepada wartawan, Minggu, 7 Agustus 2016.

    Sebanyak tujuh mobil dan sekitar 50 motor rusak. Hampir seluruh kaca jendela dan pintu masuk Kantor Wali Kota pecah. Letak Kantor Wali Kota Makassar berdekatan dengan Markas Polrestabes Makassar di Jalan Ahmad Yani, Kota Makassar.

    Danny menyayangkan terjadinya bentrokan itu. Dia juga menyatakan turut berduka atas jatuhnya korban tewas dalam insiden itu. Perbaikan kerusakan kantor secepatnya dilakukan. 

    Danny mengaku tidak mempersolkan imbas dari penyerangan yang mengakibatkan kerusakan parah di kantornya. "Ini hanya aksidental. Ke depan pola komunikasi akan diintensifkan," ujarnya.

    Dia mengatakan, pihaknya bersama polisi dan TNI berkomitmen menjaga keamanan Kota Makassar. Danny berharap ekskalasi kondisi ini segera reda dan tidak menimbulkan persoalan baru.

    Bentrokan terjadi Minggu dinihari, 7 Agustus 2016. Puluhan polisi menyerang Balai Kota Makassar yang di dalamnya juga berkantor Satpol PP. Penyerangan itu diduga sebagai aksi balas dendam setelah dua orang personel polisi, yakni Brigadir Dua Akmal Sulaiman dan Brigadir Dua Hendrik dikeroyok anggota Satpol PP di anjungan Pantai Losari. Dalam peristiwa itu seorang polisi, Brigadir Dua Michael Abraham Rieuwpassa, 22 tahun, tewas. Korban meregang nyawa setelah terkena tusukan benda tajam di punggungnya.

    Ayah Michael, Ajun Inspektur Satu Elvis mengatakan tidak menyangka insiden itu akan menimpa anaknya. "Baru kali ini dia keluar malam saat lepas tugas," ucapnya kepada Tempo, seraya menjelaskan mengetahui peristiwa itu setelah anaknya dinyatakan meninggal dunia.

    Elvis berharap tidak ada peristiwa susulan akibat tewasnya anak sulungnya itu. "Saya harus terima kenyataan ini," ucapnya.



    ABDUL RAHMAN

     



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.