Suku Anak Dalam Dilantik Jadi Tim Pemadam Kebakaran Hutan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga mengamati kebakaran lahan di Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru, Riau, 10 Maret 2016. Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status Siaga Darurat Kebakaran Lahan dan Hutan sejak 7 Maret lalu selama tiga bulan ke depan. ANTARA/Wahyudi

    Seorang warga mengamati kebakaran lahan di Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru, Riau, 10 Maret 2016. Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status Siaga Darurat Kebakaran Lahan dan Hutan sejak 7 Maret lalu selama tiga bulan ke depan. ANTARA/Wahyudi

    TEMPO.CO, Jambi - Penduduk suku Anak Dalam (SAD) yang bermukim di wilayah adat Dusun Pangkalan Ranjau, Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Bahar Selatan, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, diajak untuk peduli kebakaran hutan dan lahan. Mereka diajak membentuk Satuan Tugas Karhutla Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

    Depati Adat Dusun Pangkalan Ranjau, Jufri, mengemukakan pihaknya hari ini melantik tim masyarakat adat siaga api yang akan bergabung bersama Satgas Karhutla. “Tim ini dibentuk untuk melindungi wilayah adat kami dari bahaya api,” ujarnya, Sabtu, 6 Agustus 2016.

    Menurut Jufri, dalam wilayah adat mereka terdapat aset yang menjadi sumber penghidupan masyarakat, seperti kebun ubi, pisang, sayur-mayur, kebun karet. Ada pula sumber-sumber kehidupan lain di dalam hutan dan sungai yang selama ini turut menghidupkan suku mereka.

    Kepala Desa Tanjung Lebar, Rustam Efendi, mengatakan pihaknya mendukung penuh inisatif yang adatang dari kesadaran masyarakat sendiri. "Kami berharap kepada warga agar terus menjaga kekompakan serta selalu berkoordinasi dengan pemerintah desa dalam upaya mengantisipasi dan mengatasi kebaran hutan," katanya.

    Fauzan Fitrah, Koordinator AGRA Jambi yang selama ini mendamping warga SAD di daerah itu, pihaknya hanya memberi masukan dalam pembentukan satgas ini. “Masyarakat sebetulnya sangat peduli dan memiliki upaya mengantisipasi karhutla, dan kami kurang sependapat dengan pihak-pihak yang suka menuding masyarakat sebagai pelaku pembakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

    Hak senada juga dijelaskan Direktur Institut Pemberdayaan Masyarakat (INSPERA) Ade Ahmad Faidllah. Ia sangat menghargai upaya masyarakat suku terasing ini akan kepeduliannya untuk menjaga kawasan hutan dan lahan mereka dari bencana kebakaran. "Kami berharap kesadaran seperti ini akan diikuti semua masyarakat yang ada di Provinsi Jambi, sehingga bencana karhutla di daerah ini akan dapat diatasi," ujarnya.

    SYAIPUL BAKHORI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.