Terima Presiden Ukraina, Sultan Jajaki Sister Province

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Sultan Hamengku Bawono (kanan) bersama dengan istri GKR Hemas (kedua dari kanan) pada acara peringatan Jumenengan Dalem di Pagelaran, Keraton Yogyakarta, 18 Mei 2015. Jumenengan Dalem adalah peringatan akan peristiwa naik tahta Sultan HB X di keraton Yogyakarta. TEMPO/Pius Erlangga.

    Sri Sultan Hamengku Bawono (kanan) bersama dengan istri GKR Hemas (kedua dari kanan) pada acara peringatan Jumenengan Dalem di Pagelaran, Keraton Yogyakarta, 18 Mei 2015. Jumenengan Dalem adalah peringatan akan peristiwa naik tahta Sultan HB X di keraton Yogyakarta. TEMPO/Pius Erlangga.

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X menerima kunjungan Presiden Ukraina Petro Poroshenko ke Keraton Yogya dalam rangkaian lawatan ke Indonesia pada Sabtu, 6 Agustus 2016. Kunjungan itu menjadi jalan awal untuk membuka kerja sama dengan negara-negara Eropa Timur.

    "Kami membicarakan kota-kota apa saja di Ukraina yang bisa terlibat dalam kerja sama sister province," ujar Sultan yang juga Raja Keraton itu usai menemui Presiden Ukrania di Keraton Yogya.

    Sultan mengatakan selama ini Yogya telah menjalin kerja sama pendidikan, pariwisata, dan budaya dengan sejumlah negara dalam bentuk program sister province, seperti dengan Jepang dan juga negara Eropa atau Asia lainnya.

    "Dengan negara Eropa Timur belum ada kerja sama itu, makanya tadi kami bahas kemungkinan kerja sama itu. Beliau (Presiden Ukraina) akan mencarikan kota yang cocok untuk kerja sama dengan Yogya," ujarnya.

    Kunjungan Presiden Petro ke Keraton Yogya sekitar dua jam. Saat memasuki Bangsal Kencana, Presiden Petro hanya membawa keluarganya, sedang sejumlah menteri yang turut disebut Sultan menunggu di luar keraton.

    "Dubes (Kedutaan Besar) saja nggak ikut, jadi belum kerja sama formal apa-apa, baru sebatas dialog, silaturahmi antarkeluarga saja," ujar Sultan.

    Pangsa pasar wisatawan Eropa Timur sejak tahun lalu memang menjadi salah satu bidikan Pemerintah Kota Yogyakarta. Terutama sejak pemerintah Indonesia membebaskan visa bagi sejumlah negara pada 2015 lalu, seperti Rusia, Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan.

    Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Eko Suryo Maharsono kepada Tempo mengatakan pembebasan visa menjadi peluang mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara yang seolah sudah berada di titik jenuh.

    Eko mengatakan peluang wisatawan asing yang selama ini kurang tergarap dari Eropa Timur seperti Rusia dan juga Asia seperti Tiongkok.  "Untuk Eropa Barat kami sudah memiliki pintu masuk promosi dari Belanda, tapi di benua lain seperti Eropa Timur belum," kata dia.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.