Ahok: Wartawan Wawancara Saya Juga Disangka Kampanye

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok membantu seorang anak memasang kap lampion yang dilukis dalam peresmian Taman Pandang Istana, Jakarta Pusat, 30 Juli 2016. TEMPO/Friski Riana

    Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok membantu seorang anak memasang kap lampion yang dilukis dalam peresmian Taman Pandang Istana, Jakarta Pusat, 30 Juli 2016. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.COJakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengaku sering disudutkan dengan tuduhan melakukan kampanye terselubung saat menjalankan kewajibannya sebagai kepala daerah. Misalnya, ketika melayani pertanyaan wartawan setiap hari. 

    "Kamu (wartawan) wawancara saya, ini bekerja atau bagian dari kampanye? Kalau yang enggak suka sama saya, ini kampanye lho. Kesempatan dikasih panggung buat Ahok ngomong," kata Ahok di Balai Kota Jakarta, Jumat, 5 Agustus 2016.

    Setiap pagi, Ahok memang selalu menyempatkan diri menjawab pertanyaan wartawan tentang hal apa pun yang berkaitan dengan dia, dari soal program kerja, masalah pada pemerintahan, sampai soal politik. Karena itu, wajah Ahok sering muncul di media massa, baik televisi, online, maupun surat kabar.

    Baca juga:
    Jika Produk Bandung, Wali Kota Minta Camilan Bikini Ditarik
    5 Bintang yang Bakal Jadi Pusat Perhatian di Olimpiade 2016

    Ahok meminta lawan politiknya juga melakukan hal serupa daripada menuding dia melakukan kampanye terselubung. Ia meminta mereka memasang banyak iklan daripada menjegalnya dengan melarang calon inkumben diekspos media. 

    Ahok menilai orang-orang yang berpikir seperti itu tidak ingin Ibu Kota berubah ke arah lebih baik. Mereka, kata Basuki, hanya menginginkan agar Ahok tidak terpilih lagi pada pemilihan gubernur tahun depan. "Mereka pikir, orang lihat muka Ahok terus di TV nih, bahaya. Nanti orang pilih ahok. Ya, kan?" ujar Ahok. 

    Ahok menantang calon pesaingnya untuk menawarkan program buat masyarakat Jakarta. Atau bisa saja dengan mengkritik kebijakan-kebijakan yang dianggap kurang baik atau perlu diperbaiki ketimbang terus menjegalnya dengan isu-isu politik. 

    "Kalau dia percaya sama kamu, kamu pasti jadi gubernur, kok. Santai aja. Kamu tinggal bilang saja, kesehatan bagaimana, pendidikan bagaimana, soal taman bagaimana. Kamu ngomong saja," tuturnya.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.