Divonis 3 Bulan Penjara, Guru Pencubit Siswa Tetap Bisa Mengajar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Muhammad Samhudi, terdakwa kasus guru cubit siswa, tertunduk saat mendengarkan amar putusan hakim di Pengadilan Negeri Sidoarjo, Kamis, 4 Agustus 2016. Dalam putusan itu, hakim menyatakan terdakwa bersalah dan dijatuhi hukuman tiga bulan penjara dengan masa percobaan enam bulan. TEMPO/NUR HADI

    Muhammad Samhudi, terdakwa kasus guru cubit siswa, tertunduk saat mendengarkan amar putusan hakim di Pengadilan Negeri Sidoarjo, Kamis, 4 Agustus 2016. Dalam putusan itu, hakim menyatakan terdakwa bersalah dan dijatuhi hukuman tiga bulan penjara dengan masa percobaan enam bulan. TEMPO/NUR HADI

    TEMPO.CO, Sidoarjo - Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sidorjo, Suprapto, menegaskan terdakwa kasus guru cubit siswa, Muhammad Samhudi, masih tetap mengajar di SMP Raden Rachmat, Balongbendo. "Beliau masih tetap jadi guru," kata dia kepada Tempo, Kamis, 4 Agustus 2016.

    Menurut Suprapto, meskipun majelis hakim Pengadilan Negeri Sidoarjo menyatakan yang bersangkutan bersalah melakukan tindak kekerasan terhadap anak, tak membuat organisasi profesi guru ini mengeluarkan Samhudi dari profesi yang sudah ia jalani selama 24 tahun. BACA: Guru Pencubit Murid Divonis 3 Bulan Penjara

    "Walau divonis 3 bulan penjara, keputusan hakim tadi menyebutkan bahwa bila selama enam bulan masa percobaan ia tidak melakukan tindakan yang sama, terdakwa tidak perlu menjalankan kurungan penjara selama tiga bulan," kata dia.

    Suprapto menilai keputusan yang diambil hakim cukup bijaksana dan bisa diterima. Dia berharap kasus ini bisa menjadi bahan pembelajaran kepada semua guru agar tetap memperhatikan kode etik guru dalam mengajar. "Kami berharap guru menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa."

    Majelis hakim memvonis terdakwa kurungan penjara 3 bulan dan denda Rp 250 ribu dengan masa percobaan selama 6 bulan. Hal itu sesuai dengan Pasal 80 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Vonis itu lebih ringan setengahnya daripada tuntutan jaksa.

    Penasihat hukum terdakwa mengaku masih belum menyatakan sikap apakah menerima atau banding atas putusan itu. "Kami juga perlu membicarakan dengan dewan guru dan dewan organisasi PGRI," katanya.

    Kasus ini bermula saat orang tua korban pada Februari 2016 melaporkan terdakwa ke polisi setelah tidak terima anaknya dicubit karena tidak mengikuti salat duha. Kasus ini sempat menjadi perhatian publik. Kedua belah pihak telah melakukan kesepakatan damai, namun proses hukum hingga kini tetap berjalan.

    NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.