Satu Juta Lebih Warga Jawa Barat Alami Gangguan Pendengaran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi membersihkan kuping atau telinga dengan lilin. Koichi Kamoshida/Getty Images

    Ilustrasi membersihkan kuping atau telinga dengan lilin. Koichi Kamoshida/Getty Images

    TEMPO.COBandung - Starkey Foundation memberikan alat bantu pendengaran kepada seribu warga Jawa Barat secara cuma-cuma. Sebelum diberikan gratis, pendengaran warga dicek dahulu pada 3-4 Agustus 2016. Perangkat impor seharga jutaan rupiah itu akan diberikan pada November, sekaligus pemasangannya.

    Dalam program sosial ini, Starkey Foundation bekerja sama dengan Komisi Daerah Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian Jawa Barat, Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher, Lions Club, dan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Starkey merupakan yayasan sosial internasional yang berbasis di Amerika.

    Kepala Staf Medik Fungsional, Departemen Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Ratna Anggraeni, mengatakan, hingga 2015, terdapat 2,5 persen dari 47 juta penduduk Jawa Barat, atau sekitar 1.175.000 orang, mengalami gangguan pendengaran.

    Penyebab gangguan pendengaran, ujar dia, secara umum ada lima faktor. “Karena tuli sejak bayi, kebisingan, bertambahnya usia, infeksi, dan membersihkan sendiri kotoran di telinga,” kata Ratna kepada Tempo, Kamis, 4 Agustus 2016. 

    Dari lima penyebab itu, kata dia, faktor infeksi yang paling tinggi. Ciri-cirinya antara lain keluar cairan berbau busuk atau congek. Penyakit itu terutama dialami oleh warga perdesaan. “Sebab, sewaktu sakit batuk dan pilek tidak diobati secara tuntas. Padahal hidung dan telinga memiliki hubungan saluran,” ucapnya.

    Pemeriksaan selama dua hari, ujar Ratna, untuk menentukan tingkat gangguan pendengaran sekaligus memilihkan alat yang cocok. Alat elektronik itu membantu pemakainya mendengar lebih keras dan jelas. Tidak banyak pasien yang bisa membeli alat impor seharga Rp 2-3 juta per buah. “Alatnya bisa satu, atau dipakai sepasang. Jadi total disiapkan 2.000 alat,” katanya.

    Pembagian alat bantu dengar tersebut, menurut Ratna, berlangsung di delapan kota, seperti DKI Jakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya. Total perangkatnya sebanyak 14 ribu alat.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan publikasi ke berbagai sarana kesehatan, sekolah luar biasa, yayasan, dan masyarakat umum. Masyarakat dengan disabilitas pendengaran diminta mendaftarkan diri secara online ke alamat http://pusatalatbantudengar.com/page/Waiting-List.htm. 

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Beberkan RAPBN 2020, Tak Termasuk Pemindahan Ibu Kota

    Presiden Jokowi telah menyampaikan RAPBN 2020 di Sidang Tahunan MPR yang digelar pada 16 Agustus 2019. Berikut adalah garis besarnya.