Rusuh Tanjungbalai, PKB: Perlu Kesepakatan Antartetangga

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi Vihara Tri Ratna yang rusak pasca kerusuhan yang terjadi, di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 30 Juli 2016. ANTARA/Anton

    Kondisi Vihara Tri Ratna yang rusak pasca kerusuhan yang terjadi, di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 30 Juli 2016. ANTARA/Anton

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa Daniel Johan menilai kerusuhan yang terjadi di Tanjungbalai, Sumatera Utara, timbul karena provokasi melalui media sosial. Hal ini diperparah oleh pemberitaan yang tak berimbang.

    "Yang menjadi api dalam sekam adalah kesenjangan kemiskinan. Kalau itu tidak diprovokasi, ini tidak akan menjadi masalah," kata Daniel saat dihubungi di Jakarta, Selasa, 2 Agustus 2016. Ia menyarankan Forum Kerukunan Umat Beragama terus berkomunikasi.

    Pada Jumat, 29 Juli 2016, dua wihara dan lima kelenteng yang terletak di Tanjungbalai, Medan, Sumatera Utara, dibakar massa. Peristiwa itu dipicu kesalahpahaman yang terjadi antara mereka dan seorang penduduk keturunan Tionghoa yang merasa terganggu oleh pengeras suara masjid.

    Daniel menilai pengaturan pengeras suara masjid bukanlah persoalan. Menurut dia, intinya suara dari masjid dengan pengeras suara tidak mengganggu aktivitas orang di sekitar masjid. "Kalau tidak berlebihan, tidak masalah. Intinya perlu dikomunikasikan antarwarga dan membuat kesepakatan."

    Persoalan di Tanjungbalai, tutur Daniel, bakal selesai apabila sudah ada rekonsiliasi. Namun ia meminta proses hukum terus berlanjut. "Jangan membiasakan masyarakat merespons segalanya dengan tindakan kriminal."


    ARKHELAUS



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.