Kisah Cindy, Mahasiswi Penjual Jengkol untuk Mengisi Liburan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jengkol. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Jengkol. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.COBengkulu - Cindy Puspa Argarini memilih menghabiskan masa liburan panjang kuliahnya dengan berjualan jengkol. Ternyata melambungnya harga jengkol hingga Rp 50 ribu per kilogram menjadi salah satu penyebab mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Bengkulu itu rela menghabiskan masa liburan di kampungnya di Desa Ulu Talo, Seluma.

    "Ayah saya punya banyak pohon jengkol, harga sedang mahal. Sayang kalau tak ada yang memanen," kata Cindy di rumahnya, Senin, 1 Agustus 2016. Cindy mengaku sebelumnya ia tak pernah tertarik memanen dan menjual jengkol. Namun kali ini ia merasa sangat sayang jika melewatkan masa panen raya di tengah harga jengkol yang melangit.

    Gadis 21 tahun tersebut mengaku meraup hampir Rp 5 juta dari hasil menjual jengkol. Jengkol di kebun ayahnya itu sebenarnya, menurut Cindy, tidak sengaja ditanam. Pohon berbau khas tersebut tumbuh sendiri di kebun karet ayahnya. Jumlahnya pun tidak banyak, hanya 15 batang. Sebagian baru berbuah tahun ini sehingga hasil panennya belum terlalu banyak.

    Biasanya mereka tak pernah menjual jengkol itu. Kebanyakan buah tersebut untuk dikonsumsi sendiri atau dibagikan kepada tetangga dan sanak famili di desa dan Kota Bengkulu. Masyarakat desa pun belum menjadikan komoditas lokal ini sebagai sumber mata pencaharian. Mayoritas mereka petani karet dan kelapa sawit.

    "Menurut saya, jengkol dan petai adalah komoditas yang bisa dikembangkan secara serius, bukan sebagai tanaman selingan belaka, karena nilai ekonominya cukup menjanjikan," ujar Cindy. Cindy mengaku tidak malu berjualan jengkol. Justru dia bangga selama liburan bisa membantu ayahnya dan menghasilkan uang.

    Berdasarkan pantauan, saat ini harga jengkol di pasaran masih tinggi. Meski masuk masa panen, harga jengkol Rp 36 ribu per kg. "Ini mulai turun, sepekan lalu harganya Rp 50 ribu per kg," tutur Juni, pedagang di Pasar Panorama, Kota Bengkulu. Ia mengaku harga jengkol bertahan cukup lama pada kisaran Rp 50-60 ribu per kg sejak Lebaran lalu.

    Selain karena faktor kelangkaan, tingginya harga komoditas yang tergolong dalam suku polong-polongan itu juga karena tingginya permintaan dari masyarakat. "Walaupun mahal, mereka tetap mau membeli, makanya harga jengkol tetap tinggi," ucap Juni.

    Tak hanya jengkol, petai pun masih menjadi barang mahal, mengalahkan harga ayam potong. Satu papan petai saat ini dihargai Rp 7.000, sementara seikat yang berisi lima papan dibanderol Rp 30 ribu. "Tadi niatnya mau beli, tapi tahu harganya semahal itu enggak jadi. Mending beli tahu Rp 7.000 sudah dapat sekantong," kata Sri, pembeli di pasar tersebut.

    PHESI ESTER JULIKAWATI

    BACA JUGA
    Fethullah Gulen Siap Digantung Jika Tuduhan Erdogan Terbukti
    Ahok: Tiap Calon Gubernur Bakal Bongkar Borok Lawannya



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.