Umat Islam di Indonesia Menentang Terorisme

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua MPR mengajak negara-negara Islam untuk bersatu karena persatuan mampu mencegah upaya-upaya pecah belah yang dilakukan orang lain

    Wakil Ketua MPR mengajak negara-negara Islam untuk bersatu karena persatuan mampu mencegah upaya-upaya pecah belah yang dilakukan orang lain

    INFO MPR - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menegaskan bahwa Islam tidak mendukung radikalisme dan teorisme. Karena dalam Islam ada sistem hidup yang komprehensif, mengakomodir kebutuhan duniawi dan ukhrowi, mengakui moderasi dalam hidup, keseimbangan dan kebaikan.

    Menurut Hidayat saat menjadi pembicara dalam Konferensi Internasional Islam Washatiyah Minggu 31 Juli 2016, yang sekarang terjadi di Libya, Irak, Pakistan dan sebagainya  adalah bukti bahwa Islam sudah menjadi korban terorisme.

    Hidayat mengajak negara-negara Islam untuk bersatu. Karena persatuan mampu mencegah upaya-upaya pecah belah yang dilakukan orang lain. “Dan Rasulullah sangat menganjurkan serta mencintai persatuan,” ujarnya.

    Konferensi Internasional Islam Washatiyah yang diselenggarakan Rabithoh Al 'Aalam Al Islami tersebut berlangsung  di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Acara itu mengetengahkan tema Wasathiyah Untuk Mencegah Terorisme dan Sektarianisme, dan berlangsung hingga 1 Agustus 2016. Ada 20 perwakilan negara yang ikut serta dalam kegiatan ini.

    Rabithoh Al 'Aalam Al Islami atau Liga Dunia Islam adalah lembaga Islam non pemerintah. Organisasi ini berdiri  pada Dzulhijah 1381 H atau Mei 1962 di Makkah, Arab Saudi. Rabithoh Al 'Aalam Al Islami  disponsori Raja Arab Saudi Raja Faisal bin Abdulazis. Syekh Muhammad Surur terpilih sebagai Sekretaris Jenderal pertama Rabithah Alam Islami. Salah satu aktivitas pertama Liga Dunia Islam saat berdiri adalah mengawasi pembangunan Masjidil Haram. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.