Dituduh Sekolah Teroris, Murid Bikin Hashtag #SAVEPRIBADI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Recep Tayyip Erdogan memberi sambutan usai mengikuti salat mayit berjamaah pada sejumlah korban aksi Kudeta Militer Turki di Masjid Fatih, Istanbul, Turki, 17 Juli 2016. Aksi kudeta Turki, pemerintah menangkap sejitar 6.000 orang yang ikut terlibat dalam aksi tersebut. (Burak Kara/Getty Images)

    Recep Tayyip Erdogan memberi sambutan usai mengikuti salat mayit berjamaah pada sejumlah korban aksi Kudeta Militer Turki di Masjid Fatih, Istanbul, Turki, 17 Juli 2016. Aksi kudeta Turki, pemerintah menangkap sejitar 6.000 orang yang ikut terlibat dalam aksi tersebut. (Burak Kara/Getty Images)

    TEMPO.CO, Jakarta - Murid Sekolah Pribadi Depok menyatakan prihatin dengan informasi serampangan Kedutaan Besar Turki di Jakarta, yang menyebutkan sekolah mereka terafiliasi dengan jaringan teroris Turki. Tak terima dengan tuduhan itu, murid di Sekolah Pribadi menulis pesan dengan hashtag #SAVEPRIBADI, sebagai penegasan bahwa sekolah mereka bebas dari isu teroris.

    Siswa kelas XI A SMA Pribadi, Umar Syaifussdiq, mengatakan fitnah terhadap sekolahnya yang terafiliasi dengan jaringan teroris yang mengkudeta Turki, cukup mengganggu. Siswa tidak terima sekolah mereka disebut tergabung jaringan teroris bernama Fethullah Terrorist Organisation (FETO). "Kami berinisiatif menulis hashtag itu. Sebab, sekolah kami bukan sekolah teroris," kata Umar, Jumat, 29 Juli 2016.

    Umar menyatakan, tak pernah ada pelajaran teroris maupun pemerintahan Turki di Sekolah Pribadi. Sekolah, kata dia, hanya mengajarkan bahasa Turki. "Belajar bahasa Turki, iya," ucapnya. Bila isu ini terus berkembang, tidak menutup kemungkinan para siswa turun ke jalan untuk mengkampanyekan pesan #SAVEPRIBADI. "Itu bisa kami lakukan untuk membantah tudingan yang menyatakan sekolah kami, sekolah teroris."

    Salah seorang guru yang tidak mau menyebutkan namanya, engatakan jika Sekolah Pribadi Depok disebut terafiliasi dengan jaringan teroris, mana mungkin pihak sekolah meminta anggota TNI untuk melatih anggota pasukan pengibar bendera (Paskibra) sekolah yang berlokasi di Jalan Margonda Raya itu. "Ada-ada saja. Kami punya pelatih dari TNI. Kalau kami terafiliasi sekolah menghindari TNI," ucapnya.

    Pejabat Hubungan Masyarakat Yayasan Yenbu Indonesia SD SMP SMA Pribadi Depok, Ari Rosandi, menuturkan untuk menyikapi rilis Kedutaan Besar Turki itu, sebenarnya Sekolah Pribadi tidak dalam kapasitas mengomentari atau memberikan pernyataan terkait kondisi di dalam negeri Turki. Sebab, Sekolah Pribadi lembaga pendidikan yang bergerak di bidang pendidikan dan bukan lembaga politik.

    "Kami tegaskan, sekolah-sekolah kami tidak pernah mengajarkan kekerasan apalagi kegiatan yang mengarah kepada tindakan terorisme," Ari. Sekolah Pribadi Depok, kata dia, dibangun untuk anak-anak Indonesia. Bahkan, Sekolah Pribadi dikenal baik rekam jejaknya di Indonesia. "Rilis yang dikeluarkan KBRT berisi tudingan tidak berdasar dan sangat tidak beretika dengan menyebut langsung nama-nama sekolah kami," ucapnya.

    Menurut Ari, rilis Kedubes Turki merupakan fitnah keji yang jauh dari norma hukum serta etika dan dapat merusak citra sekolah-sekolah yang berkelindan dengan Pribadi. Selain Sekolah Pribadi Depok, kata dia, merupakan sekolah yang dibentuk atas kerjasama pendiri Sekolah Pribadi Aip Syarifudin dengan Lembaga Swadaya Masyarakat Pasaid dari Turki yang fokus pada pengembangan pendidikan pada 1995.

    Selain Pribadi, ada enam sekolah lain yang mempunyai ikatan dengan Pasaid, yakni Sekolah Pribadi Bandung, Jawa Barat; Sekolah Semesta Semarang, Jawa Tengah; Sekolah Kharisma Bangsa, Sekolah Kesatuan Bangsa, Sekolah Fatih Banda Aceh dan Sekolah Teuku Nyak Arif Fatih Banda Aceh.

    Untuk menjaga nama baik sekolah-sekolah tersebut, nama baik siswa-siswi, para orang tua siswa, guru-guru dan alumninya, yayasan-yayasan yang menaungi sekolah-sekolah ini akan mengambil langkah terukur terhadap Kedubes Turki sesuai hukum dan etika. "Tak sepantasnya Turki melalui perwakilanya di Indonesia mencampuri urusan yang bukan kewenangannya dengan menuding tanpa dasar kepada sekolah-sekolah kami."

    Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga telah mengeluarkan keputusan untuk menutup 1.043 sekolah, 1.229 yayasan, 35 institusi medis, 19 perkumpulan, dan 15 universitas yang berkaitan dengan Fethullah Gulen. Selain Indonesia, ada beberapa negara yang diminta agar menutup sekolah karena dugaan afiliasi dengan teroris Turki, di antaranya : Yordania, Azerbaijan, Somalia, dan Nigeria.

    Di Indonesia ada sembilan sekolah yang dinyatakan terafiliasi dengan FETO seperti pernyataan Kedutaan Besar Turki dalam website resmi mereka, Kamis, 28 Juli 2016.

    Sembilan sekolah di Indonesia, yang dianggap berafiliasi dengan FETO, antara lain Sekolah Pribadi Depok, Sekolah Pribadi Bandung, Sekolah Semesta Semarang, Sekolah Kharisma Bangsa, Sekolah Kesatuan Bangsa, Sekolah Fatih Banda Aceh, Sekolah Teuku Nyak Arif Fatih Banda Aceh, Sragen Bilingual Boarding School, dan Banua Bilingual Boarding School, Kalimantan Selatan.

    IMAM HAMDI

    BACA JUGA
    Turki Minta Sekolah di Indonesia dan Gulen Chair Ditutup
    Eksekusi Mati: Inikah Permintaan Terakhir Freddy Budiman?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.