Tiba di Surabaya, Jenazah Freddy Budiman Disambut Tahlil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rumah terpidana mati Freddy Budiman, di Jalan Krembangan Baru VII, dipasang terop dan dijaga pihak kepolisian sejak Jumat pagi, di Surabaya, 29 Juli 2016. TEMPO/MOHAMMAD SYARRAFAH

    Rumah terpidana mati Freddy Budiman, di Jalan Krembangan Baru VII, dipasang terop dan dijaga pihak kepolisian sejak Jumat pagi, di Surabaya, 29 Juli 2016. TEMPO/MOHAMMAD SYARRAFAH

    TEMPO.CO, Surabaya - Jenazah terhukum mati Freddy Budiman tiba di rumahnya, Jalan Krembangan Baru VII Nomor 6-A, Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Jumat, 29 Juli 2016, pukul 14.00. Jenazah gembong narkoba itu menjadi tontonan warga sekitar yang ingin menyaksikan kedatangan mobil jenazah.

    Ratusan warga sudah memadati rumah Freddy sejak pukul 13.30. Mereka rela berdesak-desakan sambil berdiri di pinggir jalan menanti kedatangan ambulans. Polisi, TNI, dan Satuan Polisi Pamong Praja sempat kesulitan menepikan warga saat mobil pembawa jenazah datang.

    Mobil ambulans bernomor polisi R-1958-HB itu langsung menuju rumah dua lantai itu. Melihat ambulans datang, salah satu keluarga dengan pengeras suara menggemakan tahlil "Lailla ha illallah" yang langsung diikuti warga.

    Gema tahlil terus dikumandangkan mengiringi jenazah Freddy sejak peti mati dikeluarkan dari ambulans hingga memasuki teras rumah. Di depan teras itu, pihak keluarga dan keamanan sudah menunggu sejak siang.

    Salah satu warga, Muhammad Ilham, mengatakan ingin melihat langsung mobil jenazah yang membawa Freddy. Sebab, selama ini hanya melihatnya di televisi, sehingga kedatangan jenazah dimanfaatkan untuk melihat langsung. "Ya ingin lihat aja, kan selama ini kami hanya lihat di televisi, sekarang bisa langsung lihat," katanya.

    Ilham menambahkan, sengaja meluangkan waktu untuk membantu proses pemakaman Freddy, karena selaku tetangga punya kewajiban untuk mengawal proses pemakamannya. "Rumah saya dekat dari sini," ujarnya.

    MOHAMMAD SYARRAFAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.