Sumber Dana Digugat, Ini Kata Aktivis yang Tolak Reklamasi Bali

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan masa yang tergabung dalam ForBali membawa bendera dan spanduk saat aksi menolak reklamasi Teluk Benoa di Denpasar, Bali, 29 Mei 2016. Johannes P. Christo

    Ratusan masa yang tergabung dalam ForBali membawa bendera dan spanduk saat aksi menolak reklamasi Teluk Benoa di Denpasar, Bali, 29 Mei 2016. Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Denpasar - Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI), I Wayan “Gendo” Suardana, menegaskan bahwa gerakan menolak reklamasi Teluk Benoa di Bali murni berasal dari aspirasi masyarakat di akar rumput. Dia menjamin tidak ada pihak luar yang menunggangi aspirasi mereka untuk kepentingan bisnis. 

    "ForBALI ini bawahannya pasubayan desa adat tolak reklamasi yang berjumlah 39 desa. Kalau menyangsikan ForBALI sama saja menyangsikan desa adat," kata Gendo saat ditemui Tempo di kantor Walhi Bali, Jalan Dewi Madri, Denpasar, Kamis, 28 Juli 2016, sore. 

    Gendo lalu menjelaskan awal mula gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa, yang dibangun dari nurani rakyat. Setiap kali massa turun ke jalan, ujar dia, berbagai atribut aksi bersumber dari masing-masing warga. "Bahkan ada yang enggak punya uang bikin baju, maka baju putih pun ditulisi dengan kata 'tolak reklamasi'. ForBALI tidak pernah memberi uang kepada peserta aksi," ujarnya. 

    Pertanyaan soal siapa yang berada di balik aksi ForBali mengemuka sepekan belakangan ini. Di dunia maya bahkan ada hashtag media sosial Twitter #bongkardanaforbali, yang sempat menjadi trending topic

    Hashtag #bongkardanaforbali mencuat setelah Gubernur Bali Made Mangku Pastika di sebuah media lokal mengaku sempat dua kali bertanya kepada Presiden Joko Widodo mengenai nasib reklamasi Teluk Benoa. Saat itu, Pastika mengaku ditanya Presiden Jokowi mengenai asal-muasal dana aksi-aksi ForBALI. Sejak itulah hashtag tersebut mulai marak di Twitter. 

    Gendo memastikan munculnya hashtag ini ditanggapi santai aktivis ForBALI. "Biarlah publik yang menilai apakah trending topic itu murni atau tidak, bisa dilihat sendiri materi yang menjadi trending topic dan hashtag-nya enggak nyambung," katanya sambil tertawa. 

    Upaya mempertanyakan motif penolakan reklamasi ini, menurut Gendo, sudah kerap dilakukan. Karena itu, aktivis antireklamasi kini tidak terlalu memusingkan itu. "Tudingan tersebut muncul untuk mengalihkan substansi. Ada upaya mendiskreditkan gerakan supaya rakyat tidak percaya kepada ForBALI," katanya. 

    Gendo juga ragu akan akurasi pernyataan Gubernur Pastika mengenai lontaran Jokowi. "Penting diverifikasi apakah benar Presiden Jokowi bertanya demikian, seperti diklaim Pastika," tuturnya. "Jokowi menjadi presiden juga dengan relawan. Artinya, beliau sangat paham ketika rakyat bergerak dengan hati keinginan dan semangat, maka akan bergerak dengan dana masing-masing," ucapnya.

    BRAM SETIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?