Pelacuran Anak Marak, Pemerintah Didesak Bertindak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kekerasan terhadap anak. Avoiceformen.com

    Ilustrasi kekerasan terhadap anak. Avoiceformen.com

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Maraknya media sosial dan mudahnya orang mengakses internet membuat pelacuran anak semakin banyak. Para aktivis perlindungan anak pun mendesak pemerintah dan aparat hukum untuk mencegah dan memerangi praktik eksploitasi seksual anak.

    "Kategori anak itu sebelum berumur 18 tahun," kata Suranto, Koordinator Sekretariat Anak Merdeka Indonesia Yogyakarta, Kamis, 28 Juli 2016. Hal ini diungkapkan Suranto dalam dialog para penggiat hak anak untuk membangun komitmen bersama dan koordinasi dalam memerangi eksploitasi seksual anak yang semakin memprihatinkan.

    Yogyakarta sebagai tujuan wisata juga tidak lepas dari praktik bisnis seks melalui dunia maya. Disinyalir juga ada wisata seks yang objeknya adalah anak-anak di bawah umur.

    Suroto menyatakan, semakin terbukanya era informasi dan komunikasi melalui teknologi internet, mengakibatkan beragam kejahatan seksual semakin meningkat. Sasarannya pun adalah semua lapisan masyarakat tidak terkecuali anak-anak.

    Ia menambahkan, peran orang tua sangat penting dalam menjaga anak supaya tidak terjerumus ke dalam dunia pornografi. Sebab, canggihnya gawai untuk membuka konten-konten internet sudah sangat mengkhawatirkan. "Banyak konten porno yang dikamuflasekan dengan gambar atau kata yang menjebak, menulis harimau yang keluar gambar porno," kata Suranto.

    Soal prostitusi online yang melibatkan anak, banyak menggunakan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan lain-lain. Pengguna facebook hingga 2012 saja sudah mencapai 55 juta orang di Indonesia. "Indonesia juga menjadi salah satu dari 10 negara di dunia yang sering melakukan pelanggaran mengunggah gambar-gambar yang terkait dengan eksploitasi seksual anak," kata Suranto.

    Ia mencontohkan kasus yang terjadi di Bali dan Nusa Tenggara Barat yaitu adanya wisata seks dengan korban anak-anak di bawah umur. Tidak menutup kemungkinan Yogyakarta juga menjadi sasaran para pedofil untuk melakukan hal yang sama di kota pelajar ini. "Kalau data kami belum ada. Tetapi yang penting bagaimana ada pencegahan," kata dia.

    Ia juga mendesak agar kebijakan pemerintah harus mendukung. Ada undang-undang yang saling bertentangan soal perlindungan anak. Misalnya kategori anak itu di bawah 18 tahun, tetapi undang-undang pernikahan masih membolehkan anak usai 16-17 tahun menikah. "Juga undang undang ketenagakerjaan yang masih membolehkan anak bekerja dengan syarat tertentu," kata Suranto.

    Suharti, Direktur Rifka Annisa, lembaga pusat krisis perempuan Yogyakarta, menyatakan, di kota ini ada kasus  prostitusi yang melibatkan anak-anak di bawah umur. Yaitu terjadi di Bantul sebanyak 11 anak. "Ada banyak pemicunya, ketika anak-anak tidak mendapatkan pengasuhan yang baik, mereka tidak memiliki konsep diri yang bagus. Sehingga tidak bisa menyaring informasi dan juga pengaruh buruk pergaulan teman sebayanya," kata dia.

    Menyadur data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2010 hingga 2012, ada  peningkatan yang mencengangkan soal prestasi anak. Pada 2010 tercatat ada 410 kasus dan meningkat menjadi 480 di 2011. Lalu, pada 2012 meningkat menjadi 673 kasus. Bahkan menurut catatan Ecpat (End Child Prostitution, Child Pronography and Trafficking of Children) Indonesia pada penelitian 2013 ada sebanyak 150 ribu anak menjadi korban perdagangan untuk tujuan seksual.

    MUH SYAIFULLAH 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.