Mahasiswa Papua di Malang Minta Perlindungan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengacara publik LBH Jakarta Veronica Koman (kiri), Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Papua Jefry Wenda, pengacara publik Pratiwi Febry, dan perwakilan mahasiswa Papua se-Jawa dan Bali Ambrosius Mulait memberi keterangan pers terkait pengepungan asrama mahasiswa Papua oleh polisi dan organisasi masyarakat di Yogyakarta. Jumpa pers bertempat di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Sabtu, 16 Juli 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    Pengacara publik LBH Jakarta Veronica Koman (kiri), Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Papua Jefry Wenda, pengacara publik Pratiwi Febry, dan perwakilan mahasiswa Papua se-Jawa dan Bali Ambrosius Mulait memberi keterangan pers terkait pengepungan asrama mahasiswa Papua oleh polisi dan organisasi masyarakat di Yogyakarta. Jumpa pers bertempat di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Sabtu, 16 Juli 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    TEMPO.COMalang - Puluhan pelajar dan mahasiswa asal Papua yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMP) berunjuk rasa di depan Balai Kota Malang, Rabu, 27 Juli 2016. Mereka menuntut perlindungan dan perlakuan yang manusiawi menyusul adanya intimidasi yang mereka terima selama sebulan terakhir. 

    "Selama 36 tahun kami belajar di Malang, selama ini kami hidup berdampingan dengan warga Malang. Nyaman dan tenteram," kata koordinator aksi, Anton Nawipa. Namun belakangan bermunculan spanduk dari organisasi tertentu yang menuding pelajar dan mahasiswa Papua akan melakukan makar. Bahkan mereka tak segan-segan mengancam akan mengusir pelajar Papua.

    "Kami tertekan, mulai di kos hingga kampus," kata Anton. Dia mengaku sering dicurigai terlibat dalam organisasi mahasiswa yang akan melakukan makar, juga mendapat perlakuan rasial dan diskriminasi. Untuk itu, dia meminta pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Malang turut membantu menjaga kebersamaan bersama warga Malang.

    Menurut Anton, selama ini warga Malang menerima pelajar dan mahasiswa Papua yang menuntut ilmu di Malang. Bahkan pelajar Papua berbaur dan berinteraksi dengan warga Malang. "Penilaian mereka salah. Kami tak melakukan makar, hanya menuntut ilmu di sini. Kami bagian dari warga Malang," ujarnya.

    Aksi ini sekaligus menjadi klarifikasi guna menolak tudingan separatis dan akan melakukan makar. Dalam aksinya, para pelajar dan mahasiswa Papua mengusung poster dan spanduk bertuliskan, "Maaf kami bukan separatis", "Menolak rasis", juga "Aksi solidaritas anti-diskriminasi dan rasis".

    EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.