Negosiasi Konferensi Perkotaan PBB Berlangsung Alot

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyambut delegasi-delegasi dalam acara konferensi perkotaan PBB, Prepcom UN Habitat, 25 Juli 2016. Tempo/Nieke Indrietta

    Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyambut delegasi-delegasi dalam acara konferensi perkotaan PBB, Prepcom UN Habitat, 25 Juli 2016. Tempo/Nieke Indrietta

    TEMPO.CO, Surabaya – Sudah tiga hari rapat negosiasi membahas New Urban Agenda (NUA) yang terangkum dalam acara persiapan konferensi perkotaan III atau Preparatory Committee (Prepcom) III United Nation (UN) Habitat di Grand City Surabaya. Sekretaris Jenderal UN Habitat Joan Clos mengatakan diskusi yang dilakukan oleh 142 negara itu berlangsung begitu alot.

    Meski demikian, Joan mengatakan setiap negara sudah menyatakan satu visi dengan konsep New Urban Agenda (NUA) yang akan dibawa ke Quito, Oktober 2016 mendatang. Kesepakatan itu, kata dia, sudah dilakukan secara konsensus.

    “Saat ini masih perlu beberapa jam lagi untuk menyelesaikan negosiasinya,” ujarnya dalam konferensi pers menjelang penutupan acara, Rabu 27 Juli 2016.

    Selama negosiasi berlangsung, kata Joan, negara-negara ini berfokus untuk membahas dua isu penting terkait urbanisasi. Pertama tentang pembangunan urbanisasi dan alat pembangunan urbanisasi. Yang kedua, Joan melanjutkan, tentang iklim pararel yang telah disepakati dalam abad ini.

    Baca juga:
    Main Drum, Menteri Basuki Bikin Delegasi Asing Bergoyang
    Buka Konferensi Perkotaan PBB, JK Bicara Soal Urbanisasi 

    Dari dua isu itu, ada empat hal konsep utama yang disepakati dari seluruh negara yang tergabung dalam negosiasi. Empat poin itu antara lain kecepatan, pemberdayaan, urban development, pendididkan dan lain-lain.

    Selain itu, Joan menyebut kesepakatan juga menekankan tentang perumahan dengan harga terjangkau. Hal itu, kata dia, sangat penting untuk dibahas karena menyangkut pertumbuhan penduduk yang mengakibatkan berkurangnya lahan.

    Selain itu dalam pembahasan terahir persiapan konferensi perkotaan ini, ditambahkan dengan unsur kebudayaan yang menjadi aspek penting dalam urbanisasi. Penambahan itu, terinspirasi dari Indonesia kata Joan. Setiap kota, kata dia, harus memiliki karakter.

    “Di Surabaya tidak hanya fisik yang dibangun tapi dimensi sosial budaya yang dibangun,” ujarnya.

    Persiapan konferensi perkotaan pertama dan kedua atau Preparatory Committee I and II sudah dilangsungkan di New York, USA dan Nairobi, Kenya. Persiapan yang ketiga yang berlangsung di Kota Surabaya ini, merupakan persiapan terahir sebelum dibawa ke Quito dan menjadi kesepakatan akhir untuk New Urban Agenda (NUA) sampai 20 tahun mendatang.

    SITI JIHAN SYAHFAUZIAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?