Ini Sebab Risma & Yusril Jadi Lawan Kuat Ahok di Pilkada DKI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Yusril Ihza Mahendra. TEMPO

    Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Yusril Ihza Mahendra. TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani dan Yusril Ihza Mahendra menjadi pesaing kuat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Berdasarkan risil hasil survei elektabilitas Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), keduanya mendapat dukungan cukup signifikan.

    Survei dilakukan terhadap 820 responden yang dipilih secara acak pada warga DKI Jakarta yang memiliki hak pilih, yakni responden yang berumur 16 tahun atau sudah menikah saat survei dilakukan. Tingkat toleransi kesalahan atau margin error sebesar 3,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

    Responden yang diwawancarai langsung menjawab pertanyaan terbuka: seandainya Pilkada Gubernur Jakarta dilakukan hari ini siapa yanga akan dipilih? Responden yang memilih Ahok sebesar 36,6 persen. Pertanyaan tanpa menyodorkan nama itu menunjukkan Yusril Ihza Mahendra mendapat 2,8 persen, Sandiaga Uno 2,1 persen, dan Adhyaksa Dault 0,7 persen.

    Sedangkan bila disodorkan nama-nama, hasilnya Ahok memperoleh 53,4 persen, Yusril 10,4 persen, Tri Rismaharini 5,7 persen, pengusaha Sandiaga Uno sebesar 5,1 persen, pemuka agama Yusuf Mansur 4,6 persen, dan tidak tahu atau rahasia sebesar 9,4 persen, serta calon lainnya dibawah 3 persen.

    Survei juga dilakukan dengan metode head to head antara Ahok-Yusril dan Ahok-Risma. Dalam survei menunjukan Ahok tetap unggul 59,4 persen, Yusril 26,3 persen tidak tahu/tidak jawab 14,3 persen. Sedangka jika berhadapan dengan Risma, Ahok mendapat 58,3 persen, Risma 26,6 persen, dan tidak tahu/tidak jawab 15 persen.

    TIM TEMPO

    BACA JUGA
    Cak Lontong: Sebelum Pokemon GO, Kita Sudah Punya Pokemon
    Pilkada DKI, Ahok Mau Jadi Pilihan Terakhir PDIP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.