Cerita Luhut & Kisah Salah Tebak Sepatu Cibaduyut Jokowi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersalaman dengan para anggota Linmas warga saat 'open house' di Istana Kepresidenan Yogyakarta, 9 Juli 2016. Jokowi menggelar open house dalam rangka silaturahmi hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H bersama masyarakat Yogyakarta. Biro Pers Setpres

    Presiden Joko Widodo bersalaman dengan para anggota Linmas warga saat 'open house' di Istana Kepresidenan Yogyakarta, 9 Juli 2016. Jokowi menggelar open house dalam rangka silaturahmi hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H bersama masyarakat Yogyakarta. Biro Pers Setpres

    TEMPO.CO, Jakarta-Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan menuturkan bagaimana Presiden Joko Widodo memberikan contoh dalam pelaksanaan konsep revolusi mental dalam hidup keseharian. Jokowi, memulai dari keteladanan yang diawali dari keluarga dan konsistensi dalam pengambilan keputusan.

    " Gaya hidup sederhana yang diterapkan Presiden Jokowi selama ini bukan pencitraan, melainkan pola hidup yang dijalankan keluarganya," kata Luhut ketika tampil dalam dialog nasional di Medan, Senin 25 Juli 2016. 


    Luhut menceritakan kebiasaan Iriana Jokowi, Ibu Negara yang lebih senang menggunakan tas produksi dalam negeri karena dinilai memiliki kualitas yang tidak kalah bagus. "Kalau istri saya masih brandedlah, kalau ibu Iriana itu, tas yang di pasar," kata Luhut dalam dialog dengan tema "peranan tokoh masyarakat dalam membina kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI itu.

    Ada pula cerita tentang sepatu. Luhut mengaku, baru-baru ini ia sempat salah menduga tentang sepatu baru Presiden Joko Widodo. Sepatu baru yang dipakai Presiden, awalnya dianggap sepatu bermerk dengan harga yang mahal. "Semula saya kira, saya pikir seperti sepatu saya yang bermerk" kata Luhut. "Tidak tahunya sepatu Presiden dari Cibaduyut lagi," katanya disambut tawa peserta dialog yang terdiri dari puluhan tokoh masyarakat Sumatera Utara.

    Menurut Luhut, pola hidup sederhana itu menyebabkan Presiden Jokowi terkesan mengabaikan protokoler kepresidenan. Luhut  mencontohkan ketika mendampingi Presiden Jokowi berbuka puasa belum lama ini yang langsung singgah di salah satu rstoran yang menghidangkan masakan Minang.

    Tanpa proses pengujian makan terlebih dulu, Presiden Jokowi langsung singgah di salah satu restoran untuk berbuka puasa.

    "Tidak perlu tes ini itu, langsung makan saja. Seperti buka puasa, makan saja di restoran Padang," kata Luhut tanpa menyebutkan lokasi restoran tersebut.

    Demikian juga dengan rencana kunjungan Presiden Jokowi dalam menghadiri festival karnaval Toba pada Agustus 2016 sebagai rangkaian sukuran peringatah HUT Kemerdekaan RI.

    Meski di Danau Toba terdapat sejumlah hotel berbintang, tetapi Presiden Jokowi berkeinginan untuk tidur di mess yang menjadi lokasi pembuangan Bung Karno di Parapat.

    Kepemimpinan yang mengedepankan keteladanan dan kesederhanaan tersebut yang dinilai membuat masyarakat menjadi tertarik atas sosok mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu.

    "Rumahnya di Solo juga tidak berubah dari 10 tahun lalu, yang berubah hanya pengamanannya bertambah karena protokolnya begitu," ujar Luhut.


    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.