Restorasi Gambut, Warga Siak Mulai Beralih Menanam Kopi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintas di dekat kawasan hutan gambut yang terbakar di Pekanbaru, Riau, Senin (17/2). ANTARA/Rony Muharrman

    Warga melintas di dekat kawasan hutan gambut yang terbakar di Pekanbaru, Riau, Senin (17/2). ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.COPekanbaru - Badan Restorasi Gambut memberikan pendampingan khusus bagi masyarakat Kabupaten Siak yang memiliki perkebunan di atas lahan gambut. Para petani didorong menanam kopi sekaligus membudidayakan madu lebah untuk menjaga ekosistem kawasan gambut milik warga. 

    Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead mengatakan aksi restorasi tidak hanya dengan membangun sekat kanal dan sumur bor di kawasan gambut, tapi juga memberdayakan masyarakat sekitar rawa gambut untuk berkebun tanaman ramah gambut dan mulai meninggalkan kelapa sawit. "Masyarakat diberdayakan menanam komoditas yang cocok di lahan gambut untuk menjaga ekosistem," ujarnya, Minggu, 24 Juli 2016.

    Selain menjaga keseimbangan ekosistem, tanaman ramah gambut seperti kopi dan nanas serta budi daya madu, berpotensi menjadi sumber ekonomi baru masyarakat Siak. 

    Untuk itu, Badan Restorasi Gambut menjadikan 10 kelompok petani di Kelurahan Kampung Rempak proyek percontohan perkebunan kopi dan budi daya madu lebah. Para petani yang sudah telanjur berkebun karet diberikan bibit kopi untuk ditanam berdampingan dengan karet. Karet dan kopi dinilai lebih cocok bagi gambut. Bunga kecambah dua komoditas itu bisa dimanfaatkan untuk nektar atau pakan lebah madu yang dibudidayakan. 

    Adapun upaya restorasi dengan membangun sekat kanal akan terus dilakukan di kawasan perkebunan masyarakat yang sudah telanjur ditanami kelapa sawit. Badan Restorasi Gambut, kata Nazir, bakal terus memantau kadar air di kanal kawasan perkebunan masyarakat dan perusahaan. "Yang penting tinggi airnya di atas 40 sentimeter harus dijaga," ujarnya.

    Bupati Siak Syamsuar mengatakan, selain kopi, komoditas nanas saat ini menjadi unggulan daerahnya. Para petani berangsur menanam nanas dan meninggalkan kelapa sawit. Menurut dia, produksi nanas terbesar saat ini berada di Kecamatan Sungai Apit. Penghasilan satu hektare kebun nanas sama dengan dua hektare kelapa sawit. "Nanas lebih menguntungkan ketimbang sawit," katanya. 

    Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki mengapresiasi kerja sama Badan Restorasi Gambut dan pemerintah Siak dalam menjaga ekosistem. Menurut Teten, hal ini sejalan dengan komitmen Presiden dalam menjaga ekosistem guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang saban tahun terjadi di Riau. "Ini satu aksi percontohan yang bagus, warga tidak lagi menanam sawit yang dapat merusak ekosistem," tuturnya. 

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.