Terapi Metadon, Solusi bagi Para Pecandu Narkotik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polres dan Polsek Jajaran Metro Jakarta Pusat menyita Sabu, Putaw, Ganja dari 26 tersangka kasus Narkoba di Polres Jakpus, 28 Januari 2016. TEMPO/Maya Ayu

    Polres dan Polsek Jajaran Metro Jakarta Pusat menyita Sabu, Putaw, Ganja dari 26 tersangka kasus Narkoba di Polres Jakpus, 28 Januari 2016. TEMPO/Maya Ayu

    TEMPO.COBogor - Koordinator Program Terapi Rumatan Metadon Dokter Nunung mengatakan terapi metadon bagi para pecandu narkotik cukup efektif dilakukan. Menurut dia, terapi itu bisa digunakan bagi para pengguna heroin dan putau. “Sudah banyak yang stabil dalam dosis (metadon),” kata dia di Puskesmas Kedung Badak, Bogor, Jawa Barat, Jumat, 22 Juli 2016.

    Nunung mengatakan terapi metadon adalah pengobatan pengganti berupa cairan untuk diminum. Menurut dia, ada perbedaan efek kerja antara putau dan metadon. Pengguna putau bisa merasa ketagihan setelah mengkonsumsi obat terlarang itu dalam waktu tiga jam. Namun untuk metadon, efektifnya hanya dalam waktu 24-36 jam. 

    Menurut Nunung, ia telah memberikan terapi kepada sekitar 55 orang sejak 2012. Dari jumlah itu, 5 orang dinyatakan sembuh dari pengaruh narkotik. Ia menuturkan kesembuhan para pecandu sangat bergantung pada komitmen mereka untuk lepas dari zat adiktif itu. 

    Dalam terapinya, Nunung mengatakan, para pengguna memberikan uang sebesar Rp 7.000 setiap hari jika ingin mendapatkan metadon. Dari Rp 7.000, sebanyak Rp 1.000 dikumpulkan untuk kegiatan sosial di komunitas Kedung Badak Family. 

    Menurut Nunung, rata-rata waktu pecandu bisa sembuh mencapai satu tahun, asalkan pecandu berkomitmen ingin sembuh. Ia berharap, dengan terapi metadon, para pecandu bisa sembuh, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial ekonomi. 

    Adnan, salah satu pengguna narkotik yang mendapat terapi metadon, mengatakan ia bertekad sembuh dari candu narkotik. Ia akhirnya memutuskan mengikuti terapi tersebut pada 2014. Ia menilai peran Nunung sebagai dokter sangat membantu kesembuhannya. “Bu Nunung selalu membantu, tidak pernah nolak,” tuturnya. 

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.