56 Arwana Langka Dilepas di Taman Nasional Zamrud Riau  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tachrir Fathoni didampingi Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau Tandya Tjahjana melepaskan 56 ekor ikan arwana golden red di Danau Pulau Besar dan Danau Bawah, Kabupaten Siak, Riau, 22 Juli 2016. TEMPO/Larissa

    Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tachrir Fathoni didampingi Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau Tandya Tjahjana melepaskan 56 ekor ikan arwana golden red di Danau Pulau Besar dan Danau Bawah, Kabupaten Siak, Riau, 22 Juli 2016. TEMPO/Larissa

    TEMPO.CO, Siak - Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tachrir Fathoni didampingi Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau Tandya Tjahjana melepaskan (restocking) 56 ekor ikan arwana golden red di Danau Pulau Besar dan tiga ekor elang di Taman Nasional Zamrud, Kabupaten Siak, Riau.

    Taman Nasional Zamrud merupakan taman nasional termuda di Indonesia. Sebelumnya, tempat tersebut merupakan suaka margasatwa Danau Pulau Besar.  Kawasan ini terletak di antara dua sungai besar,  yaitu Sungai Siak dan Sungai Kampar. "Kawasan ini memiliki ekosistem rawa gambut yanh masih relatif baik," kata Tachrir, Jumat, di Siak, Jumat 22 Juli 2016.

    Tachrir menyebutkan langkah tersebut merupakan restocking pertama di daerah zamrud. Ia menilai kawasan tersebut bisa cocok dengan ikan dan elang yang dilepaskan mengingat setelah diteliti telah cocok kualitas habitat dengan satwa langka tersebut.

    "Saya harap satwa langka terus bisa berkembang biak dan beranak pinak. Kami mohon nelayan atau masyarakat jangan tangkap, jangan sampai induknya ditangkap," tutur Tachrir.

    Tandya mengatakan pelepasan dua satwa langka tersebut merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan dua populasi jenis arwana dan elang yang ada di taman nasional tersebut. Adapun kedua jenis satwa langka tersebut didatangkan dari beberapa tempat penangkaran satwa langka.

    Sebanyak 30 ekor dari PT Salma, 20 ekor dari PT Tambak Sraya,  dan enam ekor dari PT Mina Unggul. Sementara untuk elang, sebanyak dua ekor elang bontrok dan elang hitam berasal dari Kebun Binatang Kasang Kulim dan dari warga setempat. "Sebelum pelapasan, kami sudah menganalisa kualitas air danau dan pemeriksaan kesehatan serta pemasangan microchip," kata Tandya.

    Menurut Tandya, dari setiap tempat penangkaran satwa langka mereka berkewajiban menyerahkan sepuluh persen hasil pengembanganbiakkan di penangkaran tersebut. Sementara untuk menjaga agar ikan arwana tidak dicuri, KSDA Riau memasang microchip yang berada pada tubuh ikan. "Sehingga ketika ikan dicuri, maka alat pendeteksi akan berbunyi dan langsung mengetahui siapa pencurinya," kata Tandya.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.