Yusril Ihza: Suka-Tak Suka, Saya Penantang Terkuat Ahok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Yusril Ihza Mahendra. TEMPO

    Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Yusril Ihza Mahendra. TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Yusril Ihza Mahendra mengatakan, suka-tidak suka, dirinya adalah penantang terkuat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017. Hal ini mengacu pada hasil survei beberapa lembaga yang memuat namanya mengekor di belakang nama Ahok.

    Survei terbaru dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan, jika Ahok dihadapkan dengan Yusril, sebanyak 59,4 persen responden memilih Ahok. Sedangkan Yusril meraih 26,3 persen. "Suka-tidak suka, benci-tidak benci, tetap harus mengakui fakta di lapangan saya yang kedua di bawah si petahana Ahok," katanya saat dihubungi, Jumat, 22 Juli 2016.

    Menurut Yusril, angka tersebut akan berubah drastis bila ia telah mendapatkan partai yang mendukungnya. Adapun angka untuk Ahok diprediksi akan jatuh saat ia mulai mendaftar dan mengajukan cuti atau berhenti sebagai Gubernur DKI. "Saya tidak khawatir dengan ini, mudah-mudahan partai segera ambil keputusan," ucapnya.

    Mantan Menteri Sekretaris Negara ini menuturkan partai-partai biasanya akan mengajukan penantang yang memiliki visi dan misi yang sama dan memiliki elektabilitas yang tinggi. "Posisi saya seperti itu sekarang," kata dia.

    Yusril berujar dirinya sudah berdiskusi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan maupun partai lainnya. Menurut dia, visi dan misinya tidak memiliki masalah dengan partai-partai tersebut. "Garis saya seperti Masyumi dulu, bisa kerja sama dengan siapa saja kecuali PKI (Partai Komunis Indonesia)," katanya.

    Yusril menuding, biasanya hasil lembaga survei yang dibayar ada ketentuan plus sepuluh dan minus sepuluh. Pihak yang mensponsori akan di-upgrade sepuluh dan pesaingnya downgrade sepuluh. Bila ketentuan tersebut diterapkan pada hasil SMRC, margin antara dia dengan Ahok hanya 7 persen. "Hal ini tidak berbeda dengan lembaga-lembaga lain," tuturnya.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.