Pilkada DKI Jakarta, Djarot: Risma Bisa seperti Jokowi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Kampung Guji Baru RT 04 RW 02 Kelurahan Duri Kepa,  Kebon Jeruk, Jakarta mendeklarasikan Tri Rismaharini sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Mereka menyebut diri sebagai Baris, Barisan Risma, Jakarta, 24 Juni 2016. TEMPO/Akmal Ihsan

    Warga Kampung Guji Baru RT 04 RW 02 Kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta mendeklarasikan Tri Rismaharini sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Mereka menyebut diri sebagai Baris, Barisan Risma, Jakarta, 24 Juni 2016. TEMPO/Akmal Ihsan

    TEMPO.COJakarta - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan telah menyetor enam nama calon Gubernur DKI Jakarta hasil penjaringan partai kepada Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

    Dari enam nama itu, tak ada nama Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya. "Beliau tidak ikut tes," kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan Bidang Organisasi dan Keanggotaan Djarot Saiful Hidayat, Jumat, 22 Juli 2016.

    Menurut Djarot, meski tidak mendaftarkan diri serta tidak mengikuti proses uji kelayakan dan kepatutan, peluang PDI Perjuangan mengusung Risma masih terbuka. Djarot mencontohkan pemilihan gubernur pada 2012. Saat itu Jokowi tidak mendaftarkan diri, tapi Megawati memilih Jokowi sebagai jago PDI Perjuangan. "Bisa lewat jalur penugasan," ujar Djarot, yang saat ini menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta.

    Djarot menjelaskan, sebagai ketua umum partai, Megawati memiliki wewenang menunjuk calon gubernur karena diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai. Namun hingga saat ini Megawati belum melakukannya. "Kita lihat saja prosesnya seperti apa."

    Ia tak mau menyebutkan siapa saja enam orang yang namanya telah disetorkan kepada Megawati itu. "Tak elok."

    Apakah ada kader PDI Perjuangan di antara enam orang itu? Lagi-lagi Djarot tidak mau menyebutkannya. Namun Djarot akhirnya mengaku dirinya termasuk kader internal yang diajukan. "Yang pasti, yang diajukan dari internal, saya dan Boy Sadikin."

    Nama Risma terus digadang-gadang menjadi pesaing terkuat Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Meski begitu, Risma selalu menolak ke Jakarta. "Enggak, aku enggak kepengen," tuturnya.

    Risma juga selalu mengemukakan alasan bahwa dia telah berjanji kepada warga Kota Surabaya untuk tetap di Surabaya hingga akhir masa tugasnya.

    ERWAN HERMAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.