Botol Bekas untuk Vaksin Palsu Dibeli Seharga Rp 2.500

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Contoh vaksin palsu yang disita polisi, 23 Juni 2016. TEMPO/Rezki

    Contoh vaksin palsu yang disita polisi, 23 Juni 2016. TEMPO/Rezki

    TEMPO.CO, Jakarta - Markas Besar Kepolisian RI telah menangkap pengumpul botol vaksin palsu. Salah seorang di antaranya adalah warga Cilobak RT 4 RW 1 Kelurahan Pangkalanjati, Kecamatan Cinere, Depok. Warga Cilobak mengakui seorang di antara tersangka itu adalah tetangga mereka bernama Irnawati.

    Ketua RT4 RW1 Kelurahan Pangkalanjati, Kamari, membenarkan bahwa keluarga Irnawati tinggal di lingkungannya. Tapi, setelah menikah, Irnawati tinggal di dua tempat, yakni di Cilobak dan di kawasan Taman Mini, Jakarta Timur. "Setiap akhir pekan, Irnawati selalu menginap di rumah orang tuanya di sini," kata Kamari, Kamis, 27 Juli 2016.

    Warga tidak menyangka Irnawati memasok botol bekas untuk vaksin palsu. Menurut Kamari, Irnawati hanya dimanfaatkan. Irnawati dikenal berkepribadian lugu. "Saya ragu kalau dia niat sendiri. Warga bingung saat Irnawati ditetapkan menjadi tersangka," ujarnya.

    Salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan Irnawati sempat curhat kepadanya, bahwa ia menjual botol vaksin bekas kepada tersangka Nita, seharga Rp 2.500 per botol. Botol bekas itu didapatkan Irnawati dari tempat kerjanya di Rumah Sakit Harapan Bunda Jakarta Timur.

    "Yang membeli botolnya bilang nanti juga akan dimusnahkan," kata perempuan yang tinggal dekat dengan rumah orang tua Irnawati tersebut. Ia mengenal Irnawati sebagai orang yang baik. "Sudah saya anggap anak sendiri. Pasti dia dimanfaatkan."

    Saat Tempo mendatangi rumah Irnawati di RT 4 RW 1 Nomor 82 Kelurahan Pangkalanjati, rumah itu tampak kosong. Sepekan lalu, Irnawati sempat dijenguk oleh keluarganya.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.