Arist Merdeka: Engklek Lebih Mencerdaskan daripada Pokemon  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjung bermain Pokemon Go di area di Monumen Nasional (Monas) Jakarta, 16 Juli 2016. Kegiatan #GrabPokemon ini bertujuan untuk mengajak para pecinta game Pokemon Go dalam mencari Pikachu dan kawan-kawannya di Monas Jakarta. Tempo/ Aditia Noviansyah

    Sejumlah pengunjung bermain Pokemon Go di area di Monumen Nasional (Monas) Jakarta, 16 Juli 2016. Kegiatan #GrabPokemon ini bertujuan untuk mengajak para pecinta game Pokemon Go dalam mencari Pikachu dan kawan-kawannya di Monas Jakarta. Tempo/ Aditia Noviansyah

    TEMPO.CODenpasar - Aplikasi permainan berbasis augmented realityPokemon GO, telah menarik perhatian masyarakat di Indonesia. Permainan yang memanfaatkan global positioning system dan kamera ini tercatat sudah diunduh dan dimainkan jutaan orang, termasuk anak-anak.

    Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengakui game Pokemon  GO memang sangat kreatif. Meski demikian, Arist melihat dampak negatifnya juga banyak. 

    "Dampak negatifnya tidak pernah dipikirkan, misalnya anak-anak asyik bermain kemudian kecelakaan atau diculik. Selama bermain, kan, berjalan kaki terus-menerus hingga bisa sampai 4 kilometer," katanya di Desa Budaya Kertalangu, Denpasar, Rabu, 20 Juli 2016.

    Arist meminta para orang tua mengarahkan anak-anaknya agar tidak larut dalam bermain Pokemon GO. "Ajak mereka bermain sesuai dengan tradisi permainan lokal, seperti engklek. Itu lebih kreatif dan mencerdaskan anak daripada Pokemon, yang terbebani biaya ekonomi," ujarnya.

    Arist menilai Pokemon GO perlu dihindari anak-anak karena cara bermainnya menggunakan sarana gadget. "Harus dipahami bahwa pemberian gadget kepada anak itu bukan memberi perlindungan, melainkan lebih dari 80 persen malah mencelakakan anak," tuturnya.

    Baca:
    Main Pokemon GO Bisa Kuruskan Badan
    Gila Pokemon GO, Warga Prancis Terobos Markas Kodim Cirebon
    Putin Larang Permainan Pokemon di Rusia, Ini Alasan Utamanya

    Arist khawatir anak-anak yang gandrung terhadap Pokemon GO berdampak merosotnya nilai-nilai akademis mereka. "Pokemon akan menjadi candu pada otak tengahnya karena permainan ini bisa adiktif," katanya. 

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, saat ditemui Tempo, seusai kegiatan Simposium Internasional Diaspora Austronesia di Ayodya Resort, Nusa Dua, Selasa malam kemarin, meminta anak-anak  tidak larut berlebihan dalam kegandrungan terhadap Pokemon GO. "Namanya permainan itu sebatas permainan, tidak boleh menjadi sesuatu yang dilakukan sepanjang hari," ujarnya.

    Ia mengingatkan jangan sampai orang-orang yang bermain Pokemon GO, terutama anak-anak, terjangkiti virus tersebut hingga lupa waktu dan tempat. "Kita ini lagi ruwet sama Pokemon, jangan sampai perhatian kita hanya Pokemon. Semua game yang tidak pakai dosis itu bahaya," ucapnya. 

    BRAM SETIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.