Hujan Deras, 50 Rumah di Konawe Utara Terendam Banjir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi - Banjir dan longsor mengintai. dok. KOMUNIKA ONLINE

    Ilustrasi - Banjir dan longsor mengintai. dok. KOMUNIKA ONLINE

    TEMPO.CO, Kendari - Banjir bandang menerjang Desa Puuwonua, Kecamatan Andowia, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Selasa, 19 Juli 2016. Sekitar 50 rumah warga di desa ini terendam air dengan ketinggian 1 meter. Kejadian ini tidak Menimbulkan korban jiwa.

    Kepala Desa Puuwonua Kadir mengatakan banjir tersebut terjadi karena hujan deras yang terus mengguyur Konawe Utara sejak empat hari lalu. Hujan juga membuat Sungai Anggomate yang jaraknya tak jauh dari permukiman warga meluap dan seketika itu langsung merendam rumah warga. Kini warga setempat terpaksa mengungsi ke lokasi yang aman. Sejumlah warga memilih pindah ke desa tetangga untuk mengungsi.

    “Sejak semalam, hujan terus turun. Tadi subuh, air mulai naik, lalu meluap dan langsung masuk permukiman warga,” ucap Kadir saat dihubungi Tempo, Selasa, 19 Juli 2016.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Konawe Utara Bakring Haruna menuturkan air saat ini perlahan mulai surut. Sebelumnya, ketinggian air sempat mencapai 2 meter.

    "Rumah warga yang letaknya tak jauh dari sungai terendam sampai 2 meter,” ujar Bakring.

    Tak hanya merendam puluhan rumah, derasnya air juga memutus jembatan yang menjadi penghubung Desa Puuwonua dengan tiga desa yang ada di Kecamatan Andowia.

    Saat ini, kata Bakring, pihaknya sudah membangun tenda penampungan darurat yang dipergunakan warga untuk mengungsi. BPBD pun sudah menurunkan personel untuk menyisir lokasi guna mencari warga yang masih terjebak banjir.

    "Saya sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat terkait dengan bencana ini. Kami saling bahu-membahu mengevakuasi warga. Bahkan kami juga membuat rakit yang bisa digunakan sebagai sarana penyeberangan,” ucap Bakring.

    Sebelumnya pada Sabtu, 16 Juli 2016, banjir besar juga terjadi di Konawe Utara. Lima kecamatan di daerah yang terkenal dengan perusahaan pertambangan tersebut, yakni Andowia, Asera, Molawe, Lasolo, dan Langgikima, terendam. Sekitar 3.000 warga menjadi korban bencana. Bahkan seorang warga dikabarkan tewas. Kerugian material dalam peristiwa itu ditaksir mencapai Rp 4 miliar.

    ROSNIAWANTY FIKRI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.