Tak Sanggup Beli Susu, Bayi Kembar Alami Gizi Buruk

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA

    ANTARA

    TEMPO.CO, Kendari - Wajah Suddin, 34 tahun, warga Pulau Saponda, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, terlihat murung. Dua anaknya yang merupakan bayi kembar kini tengah mendapat perawatan intensif dari tim medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bahteramas, Provinsi Sulawesi Tenggara.

    Sudah sembilan hari sejak 11 Juli lalu, Nur Aisah Ramadani dan Nur Azizah Ramadani, yang baru berusia 41 hari, berada di ruang perawatan anak di rumah sakit karena menderita gizi buruk. Suddin mengaku tak sanggup membeli susu bagi buah hatinya. Sebab, istrinya, Dewi, tak bisa menyusui karena sakit. Penghasilannya sebagai nelayan tradisional yang mencari ikan di laut dari baik dan buruknya cuaca juga tak cukup untuk membeli susu formula sebagai pengganti ASI. 

    "Awalnya mereka berak-berak, terus pas saya bawa ke bidan desa langsung disampaikan segera bawa ke rumah sakit," kata Suddin dengan mata berkaca-kaca kepada Tempo saat ditemui di rumah sakit, Selasa, 19 Juli 2016, petang.

    Setelah Nur Aisah dan Nur Azizah diperiksa, Suddin diberi tahu bahwa kedua anaknya itu menderita gizi buruk. Sebab, sudah hampir satu bulan berat badan mereka tidak bertambah, melainkan malah menurun. Suddin tak hanya kebingungan soal susu. Bahkan biaya untuk perawatan kedua anaknya dibantu sejumlah pegawai rumah sakit yang turut bersimpati.

    Penjabat Humas RSUD Bahteramas, Masita, mengatakan, hingga hari ke-41, kedua bayi ini hanya memiliki berat 1,8 dan 2,8 kilogram. "Kondisinya mulai membaik. Perawat memberikan asupan susu formula untuk mencegah bayi buang air," tuturnya.

    Masita menambahkan, sang ibu memperoleh perawatan khusus agar bisa memberikan ASI sebagai makanan terbaik buat bayi kembarnya.

    ROSNIAWANTY FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.