Pesona Situ Cipule Jadi Semangat Para Atlet Dayung

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Setelah asyik menonton lomba dayung, Anda bisa naik perahu ke Pulau Cinta di tengah danau-nya.

    Setelah asyik menonton lomba dayung, Anda bisa naik perahu ke Pulau Cinta di tengah danau-nya.

    INFO PON - Tak salah jika danau atau Situ Cipule disebut Danau Toba-nya Kabupaten Karawang. Sebab, di tengah danau seluas 90 hektare ini juga terdapat sebuah pulau, yang disebut Pulau Cinta, mirip dengan anatomi danau di Sumatera Utara itu.

    Danau yang awalnya area galian C atau galian pasir tersebut saat ini menjadi salah satu obyek wisata yang cukup populer di Karawang. Jaraknya dari pusat kota sekitar 30 kilometer. Belum lagi udara Karawang yang panas membuat perjalanan menuju danau cukup menguras keringat. Namun semua itu akan terbayar saat tiba di danau nan asri ini, di mana angin berembus segar dan pepohonan tumbuh di sekeliling danau.

    Tahun ini, Situ Cipule menjadi tuan rumah untuk pertandingan cabang olahraga dayung pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 di Jawa Barat. Dana Rp 43 miliar pun digelontorkan demi perbaikan dan pembenahannya.

    Menurut Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Karawang Aries Suparno, sebagian besar dana itu digunakan untuk perbaikan akses jalan menuju danau sepanjang 20 kilometer. Sebanyak Rp 7 miliar dipakai untuk mengeruk danau di area yang menjadi arena tanding, juga pembersihan gulma, dan Rp 6 miliar untuk memperbaiki jalan raya di sekitar Bendungan Walahar. Targetnya, bulan ini danau tersebut sudah bisa digunakan untuk uji coba.

    Jika Anda sudah berniat menonton pertandingan dayung PON XIX/2016 di Situ Cipule pada September nanti, jangan lupa menyeberang ke Pulau Cinta di tengah danau. Anda bisa naik perahu kabel selama lebih-kurang 5 menit untuk mencapai pulau. Di sana ada saung bambu beratap rumbia yang menghadap ke danau, bisa digunakan untuk bersantai sambil menikmati camilan yang dijajakan di sana atau mengawasi anak-anak bermain di arena bermain.

    Rencanakan juga untuk mampir ke Bendungan Walahar atau Bendungan Parisdo. Di area bendungan tua peninggalan Belanda ini, selain bisa beristirahat setelah perjalanan panjang dari pusat Kota Karawang, Anda bisa berwisata kuliner. Sejumlah pilihan rumah makan ada di sini, mulai yang menyajikan sup dan sate maranggi, hingga berbagai pepes. Salah satu rumah makan pepes yang terkenal di kawasan ini milik Haji Dirja. Anda bisa memilih pepes favorit, seperti oncom, ikan mas, ikan jambal, ayam, jamur, atau teri.

    Di bawah pintu air bendungan, Anda yang suka memancing ikan bisa sejenak memuaskan hobi Anda, sembari keluarga Anda duduk santai di atas gelaran tikar di bawah pepohonan rindang, di pinggir kali berair tenang.

    Kepada anak-anak, Anda juga dapat menceritakan riwayat salah satu bendungan tertua di Indonesia ini. Bendungan dengan luas 50 meter persegi tersebut mulai dibangun pada 1918 dan baru selesai tujuh tahun kemudian. Waduknya sendiri memiliki luas 15 hektare pada kawasan dataran rendah di pantai utara. Proyek pembangunannya diawasi seorang ahli perairan berkebangsaan Belanda, C. Swaan Koopman. Bendungan mulai beroperasi pada 30 November 1925 untuk mengatur debit dan sirkulasi air dari Sungai Citarum.

    Lengkap, bukan? Sekali dayung, dua tiga jenis wisata dapat dinikmati. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.