Bupati Dedi Izinkan PNS Antar Anak Sekolah Hari Pertama

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (Foto ilustrasi)Purwakarta Tampung Semua Siswa Baru di Sekolah NegeriPada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2015- 2016, ada pemberian jaminan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kepada calon siswa baru yang akan masuk sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama negeri. [TEMPO/STR/Budi Purwanto; BPW2014120108]      (Komunika Online)

    (Foto ilustrasi)Purwakarta Tampung Semua Siswa Baru di Sekolah NegeriPada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2015- 2016, ada pemberian jaminan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kepada calon siswa baru yang akan masuk sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama negeri. [TEMPO/STR/Budi Purwanto; BPW2014120108] (Komunika Online)

    TEMPO.CO, Purwakarta - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengapresiasi imbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan ihwal aparat sipil negara (ASN) yang mengantar anaknya ke sekolah pada hari pertama dan tidak akan memberikan sanksi jika terlambat datang ke kantornya.

    "Enggak masalah," kata Dedi kepada Tempo, Ahad, 17 Juli 2016. Menurut dia, di Purwakarta, orang tua berstatus ASN mengantar anak-anaknya ke sekolah sudah diterapkan sejak dua tahun lalu, seiring dengan pemberlakuan program percepatan jam masuk sekolah dari pukul 07.30 menjadi pukul 06.00 dan pulang pukul 11.00 untuk SD dan pukul 13.00 untuk jenjang SMP dan SMA.

    "Sehingga, tak pernah lagi ada orang tua siswa yang berstatus ASN datang kesiangan ke kantornya setelah mengantar anaknya ke sekolah," Dedi menjelaskan.

    Ia sependapat dengan Anies bahwa orang tua mengantar sekolah pada hari pertama tahun ajaran baru adalah sebuah surprise. "Si anak akan merasa lebih gembira ketika menginjakkan kaki ke sekolah baru terus diantar orang tuanya," ujar Bupati yang gandrung berpakaian adat Sunda lengkap dengan ikat kepalanya itu.

    Dedi mengungkapkan, secara psikologis hal itu akan membuat kedekatan secara batiniah. "Saya juga pernah merasakan, saat pergi sekolah diantar orang tua, sampai di sekolah cium tangan, cium pipi lalu melambaikan tangan, betapa senangnya," ujar anak mantan tentara itu.

    Dedi juga menyatakan sepakat dengan Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang pengenalan lingkungan sekolah (PLS) yang melarang adanya kegiatan masa orientasi sekolah (MOS) atau perpeloncoan yang berlaku sebelumnya. Kegiatan PLS pun hanya berlangsung tiga hari dan diselenggarakan guru tanpa melibatkan alumnus dan senior siswa.

    Menurut Dedi, pelarangan MOS akan sangat berdampak positif pada para siswa baru. Mereka akan lebih kreatif dan masuk sekolah tanpa ada rasa takut adanya perlakukan negatif dari para seniornya yang sebelumnya suka melakukan perpeloncoan.

    "Sebagai orang tua, kita tidak akan lagi melihat pemandangan tak sedap di mana anak-anak siswa baru berpakaian yang aneh-aneh dan siswa yang babak belur akibat digebuki seniornya," Dedi mengimbuhkan.

    Jika masih ada sekolah yang nekat memberikan izin praktek MOS yang diselenggarakan siswa senior pada tahun ajaran baru sekarang, Dedi menegaskan, "Kepala sekolahnya akan saya pecat."

    Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Purwakarta Rasmita berjanji akan memelototi penyelenggaraan PLS tahun ajaran baru tersebut secara saksama di setiap sekolah. "Saya sih yakin enggak bakal ada lagi praktik seperti MOS. Sebab, sosialisasi yang telah dilakukan sudah dianggap cukup," katanya.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.