Pemerintah Intensifkan Crisis Center untuk Tangani Sandera  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, saat menyerahkan empat korban penyanderaan Abu Sayyaf  ke pihak keluarganya masing-masing, di Gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta, 13 Mei 2016. ABK bernama M Ariyanto Misnan, Lorens Marinus Petrus Rumawi, Dede Irfan Hilmi, dan Samsir disandera sejak 15 April lalu. TEMPO/Imam Sukamto

    Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, saat menyerahkan empat korban penyanderaan Abu Sayyaf ke pihak keluarganya masing-masing, di Gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta, 13 Mei 2016. ABK bernama M Ariyanto Misnan, Lorens Marinus Petrus Rumawi, Dede Irfan Hilmi, dan Samsir disandera sejak 15 April lalu. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia merespons penyanderaan warga negara Indonesia (WNI) kesekian kalinya dengan mengintensifkan kerja Crisis Center yang dibentuk Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan.

    Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pengintensifan dilakukan dengan melalui rapat.

    "Di working level (tingkatan teknis) akan ada rapat seminggu sekali. Lalu, di tingkat menteri, akan ada rapat seminggu dua kali," ujar Retno saat dicegat awak media di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu, 13 Juli 2016.

    Saat ini ada sepuluh WNI yang menjadi sandera dari jaringan teroris akibat melaut di perairan Filipina dan Malaysia. Tiga di antaranya diculik jaringan teroris Abu Sayyaf, 2 hari lalu saat mereka melaut di Malaysia.

    Jumlah sepuluh WNI itu merupakan akumulasi dari dua kali penyanderaan. Apabila ditotal dengan penyanderaan sebelumnya, ada empat kali penyanderaan dalam satu semester. Semuanya berujung penahanan di Filipina oleh jaringan teroris Abu Sayyaf.

    Retno melanjutkan, rapat tidak sekadar membahas opsi untuk pembebasan sandera di Filipina, tapi juga memperbarui pantauan atau informasi tentang sandera. "Kami terus memantau penanganan kasus penyanderaan ini dari waktu ke waktu," tutur Retno.

    Nah, untuk pekan ini, Retno menambahkan, sudah digelar rapat teknis tentang pengamanan kapal kecil karena rawan diserang teroris. Sebagaimana diberitakan, tujuh dari sepuluh sandera yang ada sekarang merupakan awak kapal kecil pengangkut batu bara.

    "Kami mendapat data menarik, 15 persen pengiriman batu bara ke Filipina menggunakan kapal tugboat. Kami tahu penyanderaan pakai speedboat, jadi enggak akan mengincar kapal besar," ujarnya.

    ISTMAN MP

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.